Renungan

Renungan

Renungan hari Selasa, 24 Maret 2020

Selamat sore sedulur semuanya. Hari ini Selasa dalam pekan ke-4 Prapaskah. Jangan berdosa lagi.

Pernyataan cukup keras itu disampaikan kepada Yesus saat ia menjumpai kembali orang lumpuh yang disembuhkanNYA. Si lumpuh sudah 38 tahun menunggu kesempatan untuk sembuh disamping kolam Bethesda. Saat Yesus lewat IA bertanya apakah mau sembuh, dan si lumpuh menyampaikan berbagai alasan2 mengapa ia belum sembuh (tidak yang menolong, orang lain ambil kesempatan lebih dulu). Maka Yesus pun menyuruhnya untuk mengangkat tilam dan berjalan, kembali karena hari Sabat maka ributlah kaum Farisi.

Lur kenapa Yesus mengingatkan jangan berdosa lagi supaya tidak terjadi yang lebih buruk lagi, dan apakah peringatan ini hanya untuk si lumpuh? Kelumpuhan dalam Injil hari ini melambangkan beban karena dosa. Dosa membuat orang/kita tidak mampu melakukan apapun/lumpuh membuat kita tidak mampu berjalan dalam jalan Tuhan, mendengarkan suaraNYA, menjadi beban dalam jalan kita/tidak bebas, kebebasan. Oleh karena itu, yuk jangan sampai melupakan kebiasaan buruk walau hanya kecil-kecil, jangan sampai kita dirantai oleh setan melalui kebiasaan buruk kita. Coba kita tempatkan diri kita dalam cerita tadi, izinkan Yesus untuk menyembuhkan, membebaskan dan membuka telinga kita agar mampu mendengarkan SabdaNYA. Datang dan alami kedekatan dengan Yesus melalui pengakuan dosa yang TOTAL dan JUJUR agar kita bisa berjalan lagi menikmati kebebasan anak-anak Allah. BERKAH DALEM.

 

Renungan oleh RP. Sambodo, SS.CC.

Renungan

Renungan hari Senin, 23 Maret 2020

Selamat siang sedulur semuanya. Hari ini Senin dalam pekan ke-4 Prapaskah. Penyertaan Tuhan.

Dalam bacaan pertama hari ini, Nabi Yesaya menyampaikan bahwa Allah menciptakan segalanya menjadi baru, (Aku menciptakan langit dan bumi yang baru) yang lama akan dibuang dan tidak diingat kembali. Allah dalam menciptakan ini (tempat dan orangnya) dalam  kebahagiaan serta dipenuhi dengan kegembiraan. Lukisan akan kegembiraan dan kebahagian ini dalam umur panjang dan menikmati hasil jerih payah. Ini semakin menjadi tampak nyata ketika Yesus menyembuhkan anak pegawai istana. Penyembuhan Yesus ini tidak semata mata yang jasmani/fisik, justru Yesus pertama2 menyembuhkan yang rohani, yaitu kepercayaan pegawai istana tersebut. Pemulihan kepercayaan itu dialami perwira itu dalam perjalanannya kembali ke istana, saat berjumpa dengan pegawai2nya dan saat menerima kabar anaknya sembuh kemarin (saat dimana ia bercakap serta menerima kesembuhan dari Yesus).

Lur, mungkin saat ini ada diantara kita yang sedang sakit cukup lama, merasa sakit, mungkin juga ada yang dipenuhi kekawatiran akan situasi dan dirinya, semoga contoh perwira yang melakukan perjalanan untuk mengalami perjumpaan dengan Yesus juga menjadi perjalanan dan perjumpaan kita dengan Yesus. Yuk kita semakin merendahkan diri dan hati dihadapanNYA, menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada Allah dan memasrahkan/berserah total pada kehendakNYA tanpa syarat, maka melalui keterbukaan serta kerelaan hati untuk disembuhkan kita mengalami kesembuhan rohani dan jasmani kita. BERKAH DALEM.

 

Renungan oleh RP. Sambodo, SS.CC

Renungan

Renungan hari Minggu, 22 Maret 2020

Selamat sore sedulur semuanya. Hari ini Minggu pekan ke-4 Prapaskah, hari Minggu SUKACITA LAETARE. Semoga bisa menikmati e-Ekaristi bersama keluarga, dapat menikmati kebersamaan dengan Tuhan melalui cara lain. MATA HATI.

Hari ini mungkin menjadi hari Minggu yang pertama tanpa Ekaristi langsung dalam Gereja bagi sebagian besar dari kita. Namun sebenarnya terlalu banyak mereka yang telah merasakan hidup tanpa Ekaristi Kudus rutin setiap Minggu, semoga kita mampu menghargai nilai dan makna. Namun melalui  peristiwa ini justru sebuah ajakan bagi kita untuk tetap bersyukur dan  mensyukuri atas keadaan ini. Dalam bacaan Injil Yesus memelekkan mata orang buta sejak lahir. Pertanyaan para rasul, “ini dosa siapakah, orang tuanya atau orang tersebut” bukan dosa siapa-siapa namun untuk kemuliaan Allah, inilah jawaban Yesus. Apa Yang dilakukan Yesus alih2 mendapat pujian, namun apa yang dilakukanNYA membawa pertentangan karena dilakukan pada hari Sabat. Proses Yesus memelekkan mata mengingatkan akan kisah penciptaan, Yesus meludahi debu/tanah, menjadikannya seperti bubur, mengoleskannya pada mata si buta lalu menyuruhnya membasuh di kolam Siloam, si buta melakukan, maka ia melihat kembali. Menarik jawaban-jawaban si buta ketika orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bertanya jawab dengan dia. “IA adalah seorang Nabi, apakah kalian akan menjadi muridNYA juga?” “Kalau engkau katakan DIA berdosa saya tidak tahu, namun yang pasti DIA yang memelekkan mata saya, saya yang tadinya buta sekarang saya dapat melihat”. Kesal mendapatkan jawaban2 nyinyir yang memojokkannya, maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi mengusir dia. Maka ia keluar meninggalkan tempat itu, ketika ia bertemu dengan Yesus ia menyatakan Imannya dan menyembah DIA.

Lur kita sudah diingatkan oleh Paulus melalui suratnya kepada jemaat di Efesus agar kita hidup dalam terang, karena dalam terang membuahkan kebaikan, keadilan dan kebenaran. Inilah dan telanjangilah perbuatan dalam kegelapan kita tidak menghasilkan apa-apa. Bahkan kita diminta untuk menelanjangi/membongkar perbuatan2 kegelapan itu tidak perlu diperbincangkan. Sebagai anak-anak Allah karena pembaptisan kita diwajibkan hidup sebagai anak2 terang yang terurapi, (sebagaimana Daud dan calon baptis yang mendapatkan pengurapan dengan minyak katekumen) maka janganlah mata rohani kita dibutakan oleh hal2 duniawi, namun justru mampu meninggalkan dan menanggalkan budaya buta yang tidak peduli sesama, sex bebas diluar nikah, aborsi. Yuk kita mohon dan ijinkan Yesus menyembuhkan kebutaan dan titik-titik gelap hidup kita (egoisme, serakah, marah, ketidakadilan, sakit hati) sehingga kita sembuh dan bisa kembali melihat keindahan Allah sendiri dalam mereka yang kita jumpai dan layani. Yuk kita wujud nyatakan terang itu melalui sikap, perbuatan serta perkataan-perkataan kita yang baik, membawa kesejukan serta membangunkan Iman bagi sesama kita. Menjadi sesama bagi sesama. BERKAH DALEM. 

 

Renungan oleh RP. Sambodo, SS.CC

Renungan

Renungan hari Sabtu, 21 Maret 2020

Selamat siang sedulur semuanya. Hari ini Sabtu dalam pekan 3 praPaskah. Menurunkan kesombongan.

Dalam bacaan pertama kembali Nabi Hosea mengajak kita untuk bisa menikmati kembali kebersamaan denganNYA. Ajakannya sebenarnya sederhana, persembahan hati, bukan persembahan kurban bakaran. Persembahan hati inilah yang ditunjukkan kepada kita melalui peristiwa dua orang yang berdoa. Dalam doanya seorang Farisi membeberkan apa yang sudah dilakukannya namun tak lupa pula ia merendahkan orang lain. Menjadikan dirinya lebih baik. Sementara pemungut cukai tanpa berani menatap muka, hanya mengatakan “ampunilah aku orang berdosa” sambil menebah dadanya. Orang Farisi mempersembahkan korban bakarannya sementara pemungut cukai mempersembahkan hatinya.

Lur Yesus mengatakan orang itu (pemungut cukai) pulang membawa kebahagiaan karena dibenarkan oleh Allah sementara yang lain tidak. Mengakhiri pekan ke 3 ini kalau kita masing2 melihat diri, apa yang sudah aku persembahkan kepada Tuhan? Apakah aku sungguh2 memberikan hatiku untuk diubah oleh Allah? Ataukah aku masih membanggakan pencapaianku? Yuk kita bawa hati kita kepadaNYA agar kita punya hati, cara, rencana baru untuk kemulian Tuhan. BERKAH DALEM.

 

Renungan oleh RP. Sambodo, SS.CC

Renungan

Renungan hari Jumat, 20 Maret 2020

Selamat sore sedulur semuanya. Hari ini Jumat dalam pekan ke-3 Prapaskah. Semoga sudah melakukan e-Jalan Salib, atau Jalan Salib pribadi. Keutamaan.

Sudah berapa kali mendengar, membaca atau mungkin diminta untuk bertobat? Banyak diantara kita mungkin sudah melakukan walau belum sempurna, ada yang sudah bosan karena selalu gagal. Nabi Hosea kembali mengajak untuk Datanglah kembali membawa kata penyesalan dan bertobatlah mengapa ini menjadi penekanan, karena mereka telah tergelincir oleh kesalahan mereka sendiri. Rasanya ajakan Nabi Hosea ini masih cocok untuk kita, karena kita masih sering tergelincir oleh kata2 kasar, pikiran cabul, niat jahat, irihati, kesombongan, ketidakjujuran dan yang lainnya. Kita diajak untuk kembali agar kesegaran, kesejahteraan, kebahagiaan karena tetesan embun surgawi.

Lur menerima berkat Tuhan/hidup terberkati itu laksana pohon yang ditaman dekat dengan aliran sungai, yang tak pernah mengalami kekeringan, daunya lebat, buahnya banyak. Hidup yang semacam ini dapat kita laksanakan dengan menghidupi perintah Tuhan secara baik dan benar serta tidak egois. Yuk kita perbarui sikap hidup keagamaan, keseharian kita agar sesuia dengan tuntunan Allah. BERKAH DALEM.

 

Renungan oleh RP. Sambodo, SS.CC.

Renungan

Renungan hari Kamis, 19 Maret 2020

Selamat siang sedulur semuanya. Hari ini Kamis dalam pekan 3 praPaskah hari Raya Santo Yusuf suami Maria. Selamat pesta nama kepada pemilik Yusuf, Yosefine, Yosefa. Teladan tanggung jawab.

Dalam Injil Lukas dan Matheus dikatakan bahwa Yusuf itu sebagai orang yang lurus hatinya (just man) dan seorang yang bermimpi. Dalam bacaan pertama dan dalam dunia perjanjian lama mimpi adalah sebagai salah satu sarana Allah berbicara, memberikan perintah serta menjumpai umatNya. Nabi Natan mendapatkan perintah dari Allah untuk bertemu dengan Daud di malam hari. Yusuf menerima instruksi dari malaikat/Allah untuk mengambil Maria tunangannya sebagai istrinya, walau sudah hamil. Yusuf diminta untuk membawa Yesus beserta ibuNya untuk melarikan diri/mengungsi ke Mesir sampai Herodes mati. Juga saat disuruh kembali ke Israel. Sebagai orang benar/lurus hatinya, Yusuf menjadi Ayah dan suami yang taat menjalankan semua hukum Musa/Allah, mengambil Maria sebagai istrinya, memberi nama dan menyunatkan Yesus. Mempersembahkan Yesus dibait Allah. Yusuf juga sebagai orang yang taat akan hukum negara membawa Maria saat hamil tua untuk sensus penduduk. Serta juga mendidik Yesus untuk mengenal nilai-nilai keutamaan hukum Taurat Musa dan dalam bersosialisasi dengan tetangga rumah mereka.

Lur yuk kita belajar dari Yusuf:

1. Mendengarkan dan memahami perkataan Tuhan melalui peristiwa kecil2 yang kita alami.

2. Melalui kepandaian/profesi serta kedudukan kita kita berikan Yang terbaik untuk sesama kita.

3. Melalui jabatan kita kita belajar menjadi pelindung bukan penodong buat sesama dalam tugas pelayanan kita, terutama dalam mengelola emosi jiwa.

4. Belajar menjadi orang tua yang baik dan menjadi panutan dalam mengembangkan keluarga.

5. Memiliki keteguhan iman, walaupun barangkali tidak jelas apa yang Tuhan mau tunjukkan kepada kita.

Belajar untuk menjadi manusia yang bijaksana, rendah hati dan bertanggung jawab. BERKAH DALEM.

 

Renungan oleh RP. Sambodo, SS.CC.

Renungan

Renungan hari Rabu, 18 Maret 2020

Selamat sore sedulur semuanya. Hari ini Rabu dalam pekan 3 Prapaskah. Menghidupi hukum.

Dalam bacaan pertama hari ini Musa mengingatkan kepada bangsanya yang sedang menuju tanah terjanji untuk hidup menurut ketetapan dan hukum Tuhan yang telah ia sampaikan agar mereka dapat memasuki tanah terjanji dan menikmati hasil bumi tanah itu. Hendaklah melakukan dengan setia karena akan menjadi tanda bagi bangsa lain bahwa mereka berakal budi dan bijaksana. Selain melakukan, Musa juga memesan umatNya agar meneruskan sampai ke anak cucu atau dengan kata lain tidak berhenti.

Lur Yesus mengatakan bahwa kehadiranNya adalah untuk menggenapi hukum Taurat dan kitab para nabi, bukan meniadakan. Bahkan Yesus menyampaikan “Barangsiapa meniadakan salah satu perintah dan mengajarkannya, ia akan menduduki tempat yang paling rendah, namun yang mengajarkannya secara benar akan mendapatkan tempat yang tinggi“. Sampai hari ini bagaimanakah aku melihat, memahami serta melaksanakan hukum? Masihkah sebagai suatu beban atau penghalang atau sebagai penolong untuk menuntun menjadi semakin baik? Yuk kita jadikan hukum dan SabdaNya sebagai sarana bagi kita untuk semakin mengasah serta menumbuhkan kebaikan dalam hidup iman kita sehari-hari. BERKAH DALEM.

 

Renungan oleh RP. Sambodo, SS.CC.

Renungan

Renungan hari Selasa, 17 Maret 2020

Selamat siang sedulur semuanya. Hari ini Selasa dalam pekan 3 Prapaskah. Pengampunan nyata.

Pengampunan/mengampuni sebuah tindakan yang secara manusiawi sulit, mengapa? Karena kerusakan atau kehancuran ada pada pihak kita. Sedangkan meminta maaf itu tindakan yang sebenarnya gampang namun dibuat susah karena kesombongan diri. Dalam Injil hari ini hal itulah yang terjadi. Seorang memiliki hutang kepada raja yang kalau dilihat secara nalar susah untuk membayarnya, dihadapkan kepada raja dan diminta melunasi hutang-hutangnya, namun dengan modal berlutut menyembah kaki dan meminta ampun/belaskasihan maka ia mendapatkan pengampunan dan dibebaskan dari semua hutangnya oleh raja. Namun begitu keluar penghutang tadi ketemu dengan temannya yang berhutang kepadanya sangat kecil namun dia memperlakukan secara kasar, walau meminta dengan modal yang sama berlutut menyembah kaki dan meminta ampun/belaskasihan namun malah dipenjara. Maka teman2 yang lain protes kepada raja akhirnya hamba tadi dipenjara, beserta anak dan istrinya, sampai hutangnya lunas.

Lur pengampunan itu nyata, haruslah memberi imbas/akibat untuk diri secara nyata. Sesuatu seperti lingkaran kita meminta, diberikan, menerima dan memberikan kembali. Manakah dalam diriku sampai hari ini masih terasa sulit atau mengalami kesulitan untuk melakukannya? Kalau kita datang ke kamar pengakuan, bersalah kepada Tuhan, apakah kita masih sering bertindak seperti aktor? Yuk kita mohon karunia Roh Kudus agar kita semakin diberanikan untuk jujur dihadapan Allah dan dimurnikan dalam setiap tindakan kita terutama dalam memohon kedamaian hati dengan Allah, diri sendiri dan sesama serta alam sekitar BERKAH DALEM

Sedikit untuk pemahaman saja. 1 talenta = 6.000 dinar = upah selama 20 tahun kerja (1 dinar sehari) nah bisa dibayangkan diampuni untuk hutang 10.000 talenta diampuni, namun tidak mau mengampuni untuk yang berhutang 100 dinar kepadanya.

 

Renungan oleh RP. Sambodo, SS.CC.

Renungan

Renungan hari Senin, 16 Maret 2020

Selamat siang sedulur semuanya. Hari ini Senin dalam pekan 3 Prapaskah. Kerendahan hati.

Dalam 2 bacaan hari ini kita mendapati hal yang sama, kemarahan mereka yang tidak disenangkan. Dalam bacaan pertama Naaman seorang perwira kerajaan yang terkena kusta, yang datang menemui Nabi Elisa, namun hanya ditemui oleh pembantunya dan disuruh mandi 7 Kali di sungai Yordan. Merasa dilecehkan ia marah. Namun diingatkan oleh hambanya, bukankah kalau disuruh melakukan hal yang sulit pasti dikerjakan bukan, mengapa marah untuk hal yang mudah? diikuti dan sembuh, maka Naaman memuji Allah. Hal yang sama ketika Yesus menyampaikan kebenaran bagi pendengarNYA dirumah ibadat, maka mereka marah dan mau membunuh Yesus. Mereka merasa dilecehkan dan warta kebenaran itu ternyata menyakitkan mereka.

Lur ternyata menjadi rendah hati itu sulit, sesuai dengan bacaan hari ini. Namun karena pihak yang meminta selalu diminta untuk memiliki kerelaan untuk merendahkan dan direndahkan, mana ada tangan orang yang meminta ada diatas, selalu ada di bawah. Menjadi sombong dan arogan itu adalah pekerjaan setan, yang akan selalu menggelitik nilai serta harga diri seseorang setan tak akan pernah membiarkan orang untuk merubah dan menjadi rendah hati. Yuk kita bertanya pada diri dan hati kita masing2 bagaimana cara kita untuk mau membuka hati dan terbuka untuk cara sederhana Allah dalam mengolah hidup kita agar memiliki hidup, kebebasan dan kegembiraan yang luar biasa di masa praPaskah ini? Yuk kita dengarkan mungkin IA memanggil kita untuk sabar, tidak marah2, tidak menghakimi, menjadi anak yang baik dalam keluarga, menjadi pasangan yang mau mendengarkan dan membantu serta memberikan pertolongan buat saudara yang memerlukan, apakah aku siap? Semoga telinga kita menjadi telinga Naaman yang mau mendengarkan suara sederhana Allah. BERKAH DALEM.

 

Renungan oleh RP. Sambodo, SS.CC.

Renungan

Renungan hari Minggu, 15 Maret 2020

Selamat siang sedulur semuanya. Selamat hari Minggu, selamat menikmati, merayakan kegembiraan berjumpa dengan Yesus dalam perayaan Ekaristi bersama keluarga. Minggu pekan ke-3 Prapaskah. Diubah

Air menjadi barang yang sangat berharga dan menjadi barang mewah di Padang Gurun, ditengah lautan luas. Seteguk air mampu menghilangkan dahaga dan menambah kekuatan. Inilah yang dialami bangsa Israel ketika di pembuangan, mereka ketemu Padang tandus, berbatu. Mereka berteriak mempersalahkan Musa dan Musa juga menjadi kecil hati menghadapi umatnya. Lalu Tuhan menyuruh Musa memukulkan tongkat pada batu/wadas, walau ragu dan mempertanyakan ia melakukan juga maka air terpancar keluar memenuhi kebutuhan bangsa Israel. Dalam Injil Yesus meminta air kepada wanita Samaria, dengan jawaban sinis, wanita tadi mengatakan Masakan kamu orang Yahudi meminta air pada orang Samaria? Disinilah Yesus mulai membukakan ketertutupan hati wanita itu. Dengan sekali perkataan yang menghujam, “panggilah suamimu” maka dengan segala kejujurannya ia membuka diri dihadapan Yesus dan setelah itu ia meninggalkan tempayannya dan kembali kekampungnya, menyampaikan kepada orang banyak, tentang siapa Yesus dan mereka mulai datang dan bahkan meminta Yesus memperpanjang tinggalnya. Lalu pada akhirnya mereka berkata “kami menjadi percaya karena kami telah mendengar dan menyaksikan sendiri, bukan lagi karena perkataanmu”.

Lur sering kita mempertanyakan Allah, terlebih lagi ketika kita mengalami masa sulit dengan aneka pertanyaan yang menyakitkan, namun sebenarnya pertanyaan itu untuk kita sendiri “dimanakah aku saat itu Tuhan?”. Dengan kejujurannya, wanita tadi diubah oleh Yesus, maka yuk kita jujur dihadapan Allah agar Allah bisa mengubah kita. Yesus dan wanita, keduanya meminta air, maka mari kita berikan cinta, kebahagiaan, ketekunan dan penyembahan agar kita bisa mendapatkan CINTA, KEBAHAGIAAN, KETEKUNAN & PENYEMBAHAN YANG SEJATI/HIDUP dari Allah sendiri. BERKAH DALEM.

 

Renungan oleh RP. Sambodo, SS.CC