Renungan hari Selasa, 17 Maret 2020
Selamat siang sedulur semuanya. Hari ini Selasa dalam pekan 3 Prapaskah. Pengampunan nyata.
Pengampunan/mengampuni sebuah tindakan yang secara manusiawi sulit, mengapa? Karena kerusakan atau kehancuran ada pada pihak kita. Sedangkan meminta maaf itu tindakan yang sebenarnya gampang namun dibuat susah karena kesombongan diri. Dalam Injil hari ini hal itulah yang terjadi. Seorang memiliki hutang kepada raja yang kalau dilihat secara nalar susah untuk membayarnya, dihadapkan kepada raja dan diminta melunasi hutang-hutangnya, namun dengan modal berlutut menyembah kaki dan meminta ampun/belaskasihan maka ia mendapatkan pengampunan dan dibebaskan dari semua hutangnya oleh raja. Namun begitu keluar penghutang tadi ketemu dengan temannya yang berhutang kepadanya sangat kecil namun dia memperlakukan secara kasar, walau meminta dengan modal yang sama berlutut menyembah kaki dan meminta ampun/belaskasihan namun malah dipenjara. Maka teman2 yang lain protes kepada raja akhirnya hamba tadi dipenjara, beserta anak dan istrinya, sampai hutangnya lunas.
Lur pengampunan itu nyata, haruslah memberi imbas/akibat untuk diri secara nyata. Sesuatu seperti lingkaran kita meminta, diberikan, menerima dan memberikan kembali. Manakah dalam diriku sampai hari ini masih terasa sulit atau mengalami kesulitan untuk melakukannya? Kalau kita datang ke kamar pengakuan, bersalah kepada Tuhan, apakah kita masih sering bertindak seperti aktor? Yuk kita mohon karunia Roh Kudus agar kita semakin diberanikan untuk jujur dihadapan Allah dan dimurnikan dalam setiap tindakan kita terutama dalam memohon kedamaian hati dengan Allah, diri sendiri dan sesama serta alam sekitar BERKAH DALEM
Sedikit untuk pemahaman saja. 1 talenta = 6.000 dinar = upah selama 20 tahun kerja (1 dinar sehari) nah bisa dibayangkan diampuni untuk hutang 10.000 talenta diampuni, namun tidak mau mengampuni untuk yang berhutang 100 dinar kepadanya.
Renungan oleh RP. Sambodo, SS.CC.