Renungan

Renungan

Renungan hari Sabtu, 28 Maret 2020

Selamat sore sedulur semuanya. Hari ini Sabtu dalam pekan 4 Prapaskah. Kagum

Dalam bacaan Injil hari ini, kita melihat bagaimana prajurit-prajurit yang ditugaskan oleh imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat kembali dengan tangan hampa, tidak membawa Yesus secara fisik, namun mengubah pemahaman mereka. Prajurit-prajurit ini sudah berhadapan dengan Yesus sendiri, namun ketika mereka bertemu, mendengarkan perkataanNya, justru memberikan kekaguman dan justru sampai kepada kesimpulan “tidak pernah sebelumnya kami dengar orang berbicara dengan kuasa seperti orang ini”.

Lur mungkin semalem atau tadi pagi sempat menikmati berkat khusus dari Bapa Paus kita, bersyukurlah atas anugerah langka ini. Perlu kita sadari bahwa Allah tetap berbicara kepada kita melalui setiap peristiwa hidup kita, namun pertanyaannya adalah apakah aku bisa mendengarkan, memahami, mengagumi serta melaksanakannya dalam kehidupan kita? Semoga kita semakin memiliki iman yang sederhana dan jujur yang tanpa perlu hal2 khusus/istimewa untuk menyatakan pengakuan akan kebesaranMu. Ajar kami untuk tidak menjadikan diri sebagai pusat serta pembenaran diri untuk menolak Engkau sang KEBENARAN sejati. BERKAH DALEM

 

Renungan oleh RP. Sambodo, SS.CC.

Renungan

Renungan hari Jumat, 27 Maret 2020

Selamat siang sedulur semuanya. Hari ini Jumat dalam pekan 4 Prapaskah. Penghargaan.

Mengenal seseorang dan semakin dekat/terbiasa, kadang menjadi agak susah untuk menilai secara jujur. Terkadang kita agak sulit melihat kebaikan/perbuatan baiknya. Inilah yang dialami Yesus ketika hadir dalam pesta Tabenakel dan ada diantara imam-imam kepala, orang-orang Farisi dan kalangan bangsanya sendiri. Mereka merasa mengenal siapa Yesus, darimana dia datang, dan keluarganya. Maka apapun yang dilakukanNya selalu dipandang jelek/salah. Orang sebangsanya yang merasa mengenali dibuat bingung dengan rasa percaya diri, kuasa mengajar dan penyembuhan, belaskasihan kepada mereka yang miskin dan papa. Bagi mereka seperti nggak mungkinlah.

Lur bagaimanakah dengan aku terhadap mereka yang ada di sekitarku? Apakah aku juga cenderung memandang mereka hanya dari tampilan luar semata? Mampukah aku menemukan, melihat dan merasakan kehadiran Allah dalam diri mereka? Apakah aku juga bisa menghargai/memberi apresiasi terhadap anak, istri/suami, kakak atau adik ketika mereka melakukan suatu perbuatan baik walau sangat sederhana? Yuk kita belajar untuk bisa semakin rendah hati bagi dan untuk mereka yang oleh Allah sementara ini ditempatkan bersama kita. Bukan suatu kebetulan, namun sebuah karya besar Allah untuk mengubah kita. BERKAH DALEM.

 

Renungan oleh RP. Sambodo, SS.CC.

Renungan

Renungan hari Kamis, 26 Maret 2020

Selamat siang sedulur semuanya. Hari ini Kamis dalam pekan 4 Prapaskah. Dekat dengan Allah.

Dalam bacaan pertama hari ini kita diajak untuk melihat bagaimana antara Allah dan Musa bisa saling olok dan mengingatkan. Ketika Musa tengah menghadap Yahwe, diingatkan supaya turun untuk mengingatkan umatNYA yang sedang menyembah berhala berupa patung sapi bahkan mereka mempersembahkan kurban bakaran. Allah murka dan berkata kepada Musa akan membiasakan mereka dan akan digantikan oleh keturunan Musa. Maka seperti mengolok Allah, Musa mengatakan jika demikian apa untungnya Engkau membawa mereka dengan kuat kuasaMu, kalau mereka mati. Bukankah orang-orang Mesir akan mengolok-olok Engkau, lihat, mereka dibawa keluar hanya untuk dibunuh dan dibinasakan di gunung. Ingatlah akan Abraham, Isaac dan Israel/Yakub. Maka Allah menyesal dan redalah murkanya.

Lur seberapa dekatkah hubungan kita dengan Allah? Apakah Allah menjadi Allah yang menakutkan ataukah Allah yang seperti Bapa yang baik? Yesuspun karena kedekatanNya dengan BAPA, menyakinkan pendengarNYA bahwa apa yang IA lakukan itu untuk kemuliaan BAPANYA, bukan untuk diriNYA sendiri, meskipun tidak semua orang yang melihat dan memgalami bersama, percaya dan menerima apa yang IA lakukan. Yuk kita jadikan pengalaman kedekatan dengan Allah untuk kita bagikan buat yang lain sehingga semakin banyak yang bisa merasakan hadirnya Allah dan menumbuhkan Iman serta membangun kebahagiaan sejati. BERKAH DALEM.

 

Renungan oleh RP. Sambodo, SS.CC.

Renungan

Renungan hari Rabu, 25 Maret 2020

Selamat sore sedulur semuanya. Hari Rabu dalam pekan 4 Prapaskah, Hari Raya Kabar Sukacita. Ruang buat Yesus.

Hari ini Allah menepati janjiNya, karena Allah sangat mengasihi dunia sehingga Ia mengutus putraNya yang tunggal menjadi manusia. Janji Allah ini sebenarnya semenjak Daud menjadi raja, bahwa keturunannya akan menjadi raja selama lamanya, dan itu didapatkan dari Yosef suami Maria. Salam dari malaikat Gabriel kepada Maria “penuh Rahmat” membuat Maria kaget dan perkataan selanjutnya membuatnya bingung, merasa kesulitan dan bertanya “bagaimana mungkin hal itu terjadi karena Aku belum bersuami?” karena Maria menyadari keterbatasannya, ketidakmampuannya. Namun malaikat menyakinkan Maria akan perbuatan Allah yang mahabesar, “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah yang Mahatinggi akan menaungi engkau…” dan yang nyata adalah dengan memberikan contoh tentang Elisabeth tantenya yang mengandung pada bulan yang keenam, bagi dia yang sudah tua dan mandul itu. Melihat kenyataan yang ada maka Maria mengatakan “aku ini hamba Tuhan terjadilah padaku menurut perkataanMu”.

Lur Maria menjadi tempat tinggal Yesus selama 9 bulan, sepertinya Allah juga mengundang kita untuk membawa Yesus kemanapun kita pergi agar semakin banyak yang bisa merasakan dan merayakan kelahiran baru melalui pengalaman kehadiranNya. Kita pun pasti mengalami kesulitan/gagal paham mengapa kita yang tidak sempurna, banyak dosa, lemah, suka semaunya sendiri kok dipilih dan diminta, karena setiap kali Allah menciptakan, selalu ada nilai/kita bermakna. Maria perlu diyakinkan, kitapun sama yakinlah bahwa Allah justru memilih yang merasa lemah dan tidak pantas, ragu serta bingung untuk bekerja bagi Dia, karena dengan membawa Yesus untuk sesama, maka Allah akan mengubah kelemahan dan kekurangan itu serta membuat kita tetap taat dan bergantung. Yuk belajar dari perkataan St. Ambrosius “Ijinkalah jiwa Maria ada dalam diri kita sehingga kita bisa memuliakan Allah. Dan izinkanlah semangat Maria ada dalam diri kita masing-masing untuk kemuliaan Kristus”.

Selamat pesta dan selamat merayakan Ekaristi dengan bapak Uskup Purwokerto jam 6 PM WIB di keuskupanpurwokerto.id/misa-live-streaming-keuskupan-purwokerto/

BERKAH DALEM.

 

Renungan oleh RP. Sambodo, SS.CC

Renungan

Renungan hari Selasa, 24 Maret 2020

Selamat sore sedulur semuanya. Hari ini Selasa dalam pekan ke-4 Prapaskah. Jangan berdosa lagi.

Pernyataan cukup keras itu disampaikan kepada Yesus saat ia menjumpai kembali orang lumpuh yang disembuhkanNYA. Si lumpuh sudah 38 tahun menunggu kesempatan untuk sembuh disamping kolam Bethesda. Saat Yesus lewat IA bertanya apakah mau sembuh, dan si lumpuh menyampaikan berbagai alasan2 mengapa ia belum sembuh (tidak yang menolong, orang lain ambil kesempatan lebih dulu). Maka Yesus pun menyuruhnya untuk mengangkat tilam dan berjalan, kembali karena hari Sabat maka ributlah kaum Farisi.

Lur kenapa Yesus mengingatkan jangan berdosa lagi supaya tidak terjadi yang lebih buruk lagi, dan apakah peringatan ini hanya untuk si lumpuh? Kelumpuhan dalam Injil hari ini melambangkan beban karena dosa. Dosa membuat orang/kita tidak mampu melakukan apapun/lumpuh membuat kita tidak mampu berjalan dalam jalan Tuhan, mendengarkan suaraNYA, menjadi beban dalam jalan kita/tidak bebas, kebebasan. Oleh karena itu, yuk jangan sampai melupakan kebiasaan buruk walau hanya kecil-kecil, jangan sampai kita dirantai oleh setan melalui kebiasaan buruk kita. Coba kita tempatkan diri kita dalam cerita tadi, izinkan Yesus untuk menyembuhkan, membebaskan dan membuka telinga kita agar mampu mendengarkan SabdaNYA. Datang dan alami kedekatan dengan Yesus melalui pengakuan dosa yang TOTAL dan JUJUR agar kita bisa berjalan lagi menikmati kebebasan anak-anak Allah. BERKAH DALEM.

 

Renungan oleh RP. Sambodo, SS.CC.

Renungan

Renungan hari Senin, 23 Maret 2020

Selamat siang sedulur semuanya. Hari ini Senin dalam pekan ke-4 Prapaskah. Penyertaan Tuhan.

Dalam bacaan pertama hari ini, Nabi Yesaya menyampaikan bahwa Allah menciptakan segalanya menjadi baru, (Aku menciptakan langit dan bumi yang baru) yang lama akan dibuang dan tidak diingat kembali. Allah dalam menciptakan ini (tempat dan orangnya) dalam  kebahagiaan serta dipenuhi dengan kegembiraan. Lukisan akan kegembiraan dan kebahagian ini dalam umur panjang dan menikmati hasil jerih payah. Ini semakin menjadi tampak nyata ketika Yesus menyembuhkan anak pegawai istana. Penyembuhan Yesus ini tidak semata mata yang jasmani/fisik, justru Yesus pertama2 menyembuhkan yang rohani, yaitu kepercayaan pegawai istana tersebut. Pemulihan kepercayaan itu dialami perwira itu dalam perjalanannya kembali ke istana, saat berjumpa dengan pegawai2nya dan saat menerima kabar anaknya sembuh kemarin (saat dimana ia bercakap serta menerima kesembuhan dari Yesus).

Lur, mungkin saat ini ada diantara kita yang sedang sakit cukup lama, merasa sakit, mungkin juga ada yang dipenuhi kekawatiran akan situasi dan dirinya, semoga contoh perwira yang melakukan perjalanan untuk mengalami perjumpaan dengan Yesus juga menjadi perjalanan dan perjumpaan kita dengan Yesus. Yuk kita semakin merendahkan diri dan hati dihadapanNYA, menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada Allah dan memasrahkan/berserah total pada kehendakNYA tanpa syarat, maka melalui keterbukaan serta kerelaan hati untuk disembuhkan kita mengalami kesembuhan rohani dan jasmani kita. BERKAH DALEM.

 

Renungan oleh RP. Sambodo, SS.CC

Renungan

Renungan hari Minggu, 22 Maret 2020

Selamat sore sedulur semuanya. Hari ini Minggu pekan ke-4 Prapaskah, hari Minggu SUKACITA LAETARE. Semoga bisa menikmati e-Ekaristi bersama keluarga, dapat menikmati kebersamaan dengan Tuhan melalui cara lain. MATA HATI.

Hari ini mungkin menjadi hari Minggu yang pertama tanpa Ekaristi langsung dalam Gereja bagi sebagian besar dari kita. Namun sebenarnya terlalu banyak mereka yang telah merasakan hidup tanpa Ekaristi Kudus rutin setiap Minggu, semoga kita mampu menghargai nilai dan makna. Namun melalui  peristiwa ini justru sebuah ajakan bagi kita untuk tetap bersyukur dan  mensyukuri atas keadaan ini. Dalam bacaan Injil Yesus memelekkan mata orang buta sejak lahir. Pertanyaan para rasul, “ini dosa siapakah, orang tuanya atau orang tersebut” bukan dosa siapa-siapa namun untuk kemuliaan Allah, inilah jawaban Yesus. Apa Yang dilakukan Yesus alih2 mendapat pujian, namun apa yang dilakukanNYA membawa pertentangan karena dilakukan pada hari Sabat. Proses Yesus memelekkan mata mengingatkan akan kisah penciptaan, Yesus meludahi debu/tanah, menjadikannya seperti bubur, mengoleskannya pada mata si buta lalu menyuruhnya membasuh di kolam Siloam, si buta melakukan, maka ia melihat kembali. Menarik jawaban-jawaban si buta ketika orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bertanya jawab dengan dia. “IA adalah seorang Nabi, apakah kalian akan menjadi muridNYA juga?” “Kalau engkau katakan DIA berdosa saya tidak tahu, namun yang pasti DIA yang memelekkan mata saya, saya yang tadinya buta sekarang saya dapat melihat”. Kesal mendapatkan jawaban2 nyinyir yang memojokkannya, maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi mengusir dia. Maka ia keluar meninggalkan tempat itu, ketika ia bertemu dengan Yesus ia menyatakan Imannya dan menyembah DIA.

Lur kita sudah diingatkan oleh Paulus melalui suratnya kepada jemaat di Efesus agar kita hidup dalam terang, karena dalam terang membuahkan kebaikan, keadilan dan kebenaran. Inilah dan telanjangilah perbuatan dalam kegelapan kita tidak menghasilkan apa-apa. Bahkan kita diminta untuk menelanjangi/membongkar perbuatan2 kegelapan itu tidak perlu diperbincangkan. Sebagai anak-anak Allah karena pembaptisan kita diwajibkan hidup sebagai anak2 terang yang terurapi, (sebagaimana Daud dan calon baptis yang mendapatkan pengurapan dengan minyak katekumen) maka janganlah mata rohani kita dibutakan oleh hal2 duniawi, namun justru mampu meninggalkan dan menanggalkan budaya buta yang tidak peduli sesama, sex bebas diluar nikah, aborsi. Yuk kita mohon dan ijinkan Yesus menyembuhkan kebutaan dan titik-titik gelap hidup kita (egoisme, serakah, marah, ketidakadilan, sakit hati) sehingga kita sembuh dan bisa kembali melihat keindahan Allah sendiri dalam mereka yang kita jumpai dan layani. Yuk kita wujud nyatakan terang itu melalui sikap, perbuatan serta perkataan-perkataan kita yang baik, membawa kesejukan serta membangunkan Iman bagi sesama kita. Menjadi sesama bagi sesama. BERKAH DALEM. 

 

Renungan oleh RP. Sambodo, SS.CC

Renungan

Renungan hari Sabtu, 21 Maret 2020

Selamat siang sedulur semuanya. Hari ini Sabtu dalam pekan 3 praPaskah. Menurunkan kesombongan.

Dalam bacaan pertama kembali Nabi Hosea mengajak kita untuk bisa menikmati kembali kebersamaan denganNYA. Ajakannya sebenarnya sederhana, persembahan hati, bukan persembahan kurban bakaran. Persembahan hati inilah yang ditunjukkan kepada kita melalui peristiwa dua orang yang berdoa. Dalam doanya seorang Farisi membeberkan apa yang sudah dilakukannya namun tak lupa pula ia merendahkan orang lain. Menjadikan dirinya lebih baik. Sementara pemungut cukai tanpa berani menatap muka, hanya mengatakan “ampunilah aku orang berdosa” sambil menebah dadanya. Orang Farisi mempersembahkan korban bakarannya sementara pemungut cukai mempersembahkan hatinya.

Lur Yesus mengatakan orang itu (pemungut cukai) pulang membawa kebahagiaan karena dibenarkan oleh Allah sementara yang lain tidak. Mengakhiri pekan ke 3 ini kalau kita masing2 melihat diri, apa yang sudah aku persembahkan kepada Tuhan? Apakah aku sungguh2 memberikan hatiku untuk diubah oleh Allah? Ataukah aku masih membanggakan pencapaianku? Yuk kita bawa hati kita kepadaNYA agar kita punya hati, cara, rencana baru untuk kemulian Tuhan. BERKAH DALEM.

 

Renungan oleh RP. Sambodo, SS.CC

Renungan

Renungan hari Jumat, 20 Maret 2020

Selamat sore sedulur semuanya. Hari ini Jumat dalam pekan ke-3 Prapaskah. Semoga sudah melakukan e-Jalan Salib, atau Jalan Salib pribadi. Keutamaan.

Sudah berapa kali mendengar, membaca atau mungkin diminta untuk bertobat? Banyak diantara kita mungkin sudah melakukan walau belum sempurna, ada yang sudah bosan karena selalu gagal. Nabi Hosea kembali mengajak untuk Datanglah kembali membawa kata penyesalan dan bertobatlah mengapa ini menjadi penekanan, karena mereka telah tergelincir oleh kesalahan mereka sendiri. Rasanya ajakan Nabi Hosea ini masih cocok untuk kita, karena kita masih sering tergelincir oleh kata2 kasar, pikiran cabul, niat jahat, irihati, kesombongan, ketidakjujuran dan yang lainnya. Kita diajak untuk kembali agar kesegaran, kesejahteraan, kebahagiaan karena tetesan embun surgawi.

Lur menerima berkat Tuhan/hidup terberkati itu laksana pohon yang ditaman dekat dengan aliran sungai, yang tak pernah mengalami kekeringan, daunya lebat, buahnya banyak. Hidup yang semacam ini dapat kita laksanakan dengan menghidupi perintah Tuhan secara baik dan benar serta tidak egois. Yuk kita perbarui sikap hidup keagamaan, keseharian kita agar sesuia dengan tuntunan Allah. BERKAH DALEM.

 

Renungan oleh RP. Sambodo, SS.CC.

Renungan

Renungan hari Kamis, 19 Maret 2020

Selamat siang sedulur semuanya. Hari ini Kamis dalam pekan 3 praPaskah hari Raya Santo Yusuf suami Maria. Selamat pesta nama kepada pemilik Yusuf, Yosefine, Yosefa. Teladan tanggung jawab.

Dalam Injil Lukas dan Matheus dikatakan bahwa Yusuf itu sebagai orang yang lurus hatinya (just man) dan seorang yang bermimpi. Dalam bacaan pertama dan dalam dunia perjanjian lama mimpi adalah sebagai salah satu sarana Allah berbicara, memberikan perintah serta menjumpai umatNya. Nabi Natan mendapatkan perintah dari Allah untuk bertemu dengan Daud di malam hari. Yusuf menerima instruksi dari malaikat/Allah untuk mengambil Maria tunangannya sebagai istrinya, walau sudah hamil. Yusuf diminta untuk membawa Yesus beserta ibuNya untuk melarikan diri/mengungsi ke Mesir sampai Herodes mati. Juga saat disuruh kembali ke Israel. Sebagai orang benar/lurus hatinya, Yusuf menjadi Ayah dan suami yang taat menjalankan semua hukum Musa/Allah, mengambil Maria sebagai istrinya, memberi nama dan menyunatkan Yesus. Mempersembahkan Yesus dibait Allah. Yusuf juga sebagai orang yang taat akan hukum negara membawa Maria saat hamil tua untuk sensus penduduk. Serta juga mendidik Yesus untuk mengenal nilai-nilai keutamaan hukum Taurat Musa dan dalam bersosialisasi dengan tetangga rumah mereka.

Lur yuk kita belajar dari Yusuf:

1. Mendengarkan dan memahami perkataan Tuhan melalui peristiwa kecil2 yang kita alami.

2. Melalui kepandaian/profesi serta kedudukan kita kita berikan Yang terbaik untuk sesama kita.

3. Melalui jabatan kita kita belajar menjadi pelindung bukan penodong buat sesama dalam tugas pelayanan kita, terutama dalam mengelola emosi jiwa.

4. Belajar menjadi orang tua yang baik dan menjadi panutan dalam mengembangkan keluarga.

5. Memiliki keteguhan iman, walaupun barangkali tidak jelas apa yang Tuhan mau tunjukkan kepada kita.

Belajar untuk menjadi manusia yang bijaksana, rendah hati dan bertanggung jawab. BERKAH DALEM.

 

Renungan oleh RP. Sambodo, SS.CC.