Renungan hari Jumat, 28 Februari 2020
Selamat siang sedulur semuanya. Hari ini Jumat sesudah Rabu Abu dalam masa Prapaskah, hari pantang dan kalau mau silahkan berpuasa, juga hari untuk mengenangkan wafat Yesus melalui jalan Salib. AKU disini.
Mengapa kita berpuasa dan atau berpantang? Nabi Yesaya mempertanyakan akan hal itu kalau ketika kita berpuasa dan berpantang masih mengadakan pertengkaran/permusuhan atau masih melakukan kekerasan terhadap orang lain? Puasa tidak hanya membiarkan perut kita lapar sendiri atau hanya sekedar tidak makan saja. Pantang bukan mengurangi makanan atau minuman yang tidak biasa kita makan, namun mengurangi makanan yang biasa kita makan atau kebiasaan jelek yang sering kita lakukan. Puasa yang dikehendaki Allah adalah tidak untuk kebahagiaan diri sendiri namun untuk kebahagiaan sesama yaitu melepaskan kelaliman, membebaskan perbudakan serta berbagi rejeki buat sesama yang memerlukan. Puasa itu sebenarnya adalah sebuah undangan untuk kita agar menggabungkan diri secara bebas dengan penderitaan Yesus.
Lur yuk kita berpuasa agar kelebihan lemak yang tak berguna pada jiwa kita berupa kecenderungan berbuat jahat, kebiasaan jahat, kekecewaan, sakit hati, membandingkan diri dengan orang lain. Yuk kita berpantang namun jangan pantang berdoa, berbuat baik, berbicara dengan Tuhan namun berpantanglah dengan mata kalau masih suka jelalatan/liar, berpantanglah dengan kata-kata kalau membuat orang lain sakit dan kecewa atau gosip. Berpantanglah untuk mencobai diri sendiri pada titik-titik kelemahan kita. Apabila kita sudah mencoba memulai namun kalau ada kegagalan, yuk berseru kepadaNya karena Ia akan menjawab “Ini AKU“. BERKAH DALEM.
Renungan oleh RP. Sambodo, SS.CC.