Selamat Jalan Fr. Loiseau Yang Kami Kasihi

Bagi banyak orang Katolik Indonesia di St Bernadette mungkin wajahnya kurang begitu dikenal. Namun bagi banyak orang Katolik Indonesia di Gereja Risen Christ, Toa Payoh terutama teman-teman dari Komindo, wajah seorang imam tua ini tidak asing lagi. Dialah Fr Louis Loiseau, MEP.

Fr Loiseau lahir pada tanggal 25 Juni 1926, sebagai anak kedua dari lima bersaudara. Dia dibesarkan dalam keluarga yang beriman teguh dan kemudian mengklaim bahwa "hanya sepertiga dari bibit-bibit panggilan [yang akan bertahan] jika tidak didorong oleh keluarga dan imam." Fr Loiseau ditahbiskan sebagai imam Misionaris Asing Perancis (MEP) pada hari Pentekosta di tahun 1950, menjadi imam yang ke 16 dalam keluarganya.

Setelah ditempatkan di Amerika Serikat, Burma (Myanmar) dan kembali beberapa saat ke Perancis beliau akhirnya berkarya di Singapura sebagai imam yang berbasis di paroki St. Bernadette, IHM, OLPS dan terakhir di Risen Christ. Beliau juga menjadi Pembimbing Rohani (PR) untuk Konferensi Serikat St Vincent de Paul (SVDP), Dewan SVDP Utara, dan PR untuk Komunitas Katolik Berbahasa Perancis di Singapura dari tahun 1991 sampai 2003. Di Keuskupan Agung, Fr Loiseau bekerja dengan Marriage Encounter Singapore and Choice. Dia memulai Engaged Encounter pada tahun 1982, yang bergabung dengan Retrouvaille pada tahun 1991, melayani Legio Maria Senatus Singapura sampai dengan tahun 2003 dan menjadi hakim Pengadilan Gereja (yang membidangi Perkawinan) sampai tahun 2004.

Fr Loiseau atau yang dikenal juga dengan Fr LL mungkin terlihat sebagai imam yang pendiam namun ia sebenarnya senang berbicara dan bersifat humoris. Ruang kerjanya di Risen Christ selalu terbuka bagi siapa saja yang membutuhkan nasehat dan wejangan darinya. Ia bahkan sampai mengijinkan ruangannya digunakan jika umat ada yang ditolak namun membutuhkan tempat untuk rapat atau ruang diskusi. “Pakai itu kantor saya,” itulah ujarannya yang sampai sekarang masih diingat oleh beberapa umat. Salah satu keunikan Fr LL adalah logat Perancisnya yang masih sangat kental oleh karena itu banyak umat yang benar-benar diuji pendengarannya karena sering tidak mengerti apa yang beliau katakan terutama dalam homili.

Fr LL yang senang minum anggur (wine) dan makan duren itu juga mempunyai semangat pelayanan yang sangat tinggi. Meski usianya sudah lanjut dan berjalan dengan tongkat, beliau tetap mengunjungi umat di rumah-rumah, mendatangi orang-orang sakit dan mempersembahkan Misa. Bahkan setelah beliau jatuh dan mukanya lebam, ia tetap dengan setia melayani Misa dan mendengarkan pengakuan dosa umatnya. Dalam kamar pengakuan, dengan sabar dan lembut, beliau senantiasa memberikan nasehat dan mengingatkan umatnya untuk selalu rendah hati dan hidup suci.

Karena kedekatannya dengan banyak umat, maka ketika ia “terpaksa pensiun” sekitar 3 – 4 tahun yang lalu, beliau tidak pernah kesepian di Panti Jompo karena banyak umat yang silih berganti datang mengunjunginya. Selamat jalan Fr. Loiseau, selamat beristirahat kekal di Rumah Bapa. Doakan kami semua yang masih mengembara di dunia.


Diterjemahkan dari: https://chancery.catholic.sg/wp-content/uploads/sites/13/2018/01/ChanceryNoticeCHN-CN-2018-002.pdf
dan penuturan beberapa umat Komindo @ RC.