Lebih Baik Memberi Daripada Menerima

Seorang ibu adalah seseorang yang – ketika ia melihat hanya ada empat potong kue untuk lima orang – seketika itu tidak mengindahkan adanya potongan kue itu dan memberikan potongannya kepada orang lain. -Tenneva Jordan

http://www.mommyish.com/wp-content/uploads/2011/12/Christmas-present.jpgAku tahu seharusnya aku tidak terlalu bersemangat. Aku terlalu tua untuk itu. Pada usiaku yang  kesebelas, sebagai anak tertua dan yang termasuk "dewasa", aku harus tetap bersikap tenang. Aku sudah duduk di sekolah menengah. Tapi pada setiap kesempatan yang aku dapatkan, ketika sendirian, aku selalu mengecek setiap hadiah yang ada dibawah pohon Natal. Aku membaca setiap stiker nama yang ditulis dan merasakan setiap paket untuk menebak isinya. Sebegitu seringnya aku memeriksa setiap hadiah yang ada sehingga aku tahu bingkisan mana ditujukan untuk siapa tanpa melihat stiker nama yang ada.

Namun tahun ini adalah tahun yang sulit bagi keluargaku. Setiap kali ibuku melihat ke pohon Natal dan hadiah yang ada, dia akan menghela napas dan memperingatkan kami, "Tidak akan ada lagi banyak hadiah Natal tahun ini. Cobalah untuk bersabar dan tidak kecewa. "Natal secara tradisional adalah saat bagi orang tua untuk memanjakan anak-anaknya. Di tahun-tahun yang lalu, hadiah akan menumpuk dan berserakan dibawah pohon Natal, memenuhi seluruh ruang tamu. Saya telah mendengar ungkapan "memberi lebih baik daripada menerima," namun berpikir bahwa siapapun yang telah mengatakannya pasti tidak memiliki akal yang sehat. Inti perayaan Natal adalah mendapatkan sebanyak mungkin hadiah! Itulah alasan saya tidak bisa tidur di malam Natal!

Pada pagi hari Natal, kami dengan penuh semangat menunggu di lorong sampai ayah menceritakan semuanya sudah siap. Kami bergegas masuk ke ruang tamu dan membuka bungkus hadiah kami secepatnya hingga semua kertas pembungkusnya berhamburan kemana-mana. Kami berusaha keras untuk menunggu dan menonton sementara anggota keluarga lainnya membuka hadiah mereka, tapi seiring berjalannya waktu kami kehilangan kendali diri.

"Ini satu lagi untukmu," kata Ibu sambil memberi saya sebuah paket. Aku melihatnya, bingung. Setelah menghabiskan banyak waktu untuk memeriksa hadiah sebelum Natal, saya mengenali yang ini. Tapi itu bukan milikku. Itu milik ibuku. Stiker baru telah diletakkan di atasnya, dengan namaku tertulis dalam tulisan tangan ibuku.

"Bu, aku tidak bisa ..." Aku dihentikan oleh tatapan penuh semangat dan sukacita ibuku – sebuah tatapan yang tak bisa kupahami. "Mari kita lihat apa itu, sayang. Cepatlah buka. "

Hadiah itu adalah sebuah pengering rambut. Meskipun ini mungkin nampak sederhana, bagiku hadiah itu mempunyai sejuta arti. Sebagai gadis sebelas tahun, saya tercengang. Di duniaku, di mana menerima lebih penting berjuta-juta kali dibanding memberi, pengorbanan ibuku tidak bisa dipahami. Kutak dapat menerima smeuanya itu. Air mata memenuhi mataku dan aku tak percaya berapa banyak ibuku harus mencintaiku untuk menyerahkan sebungkah kecil Natalnya supaya aku memperoleh beberapa extra hadiah lagi.

Aku selalu ingat Natal itu dengan penuh kasih. Ha itu berdampak pada saya. Sebagai orang dewasa yang mempunyai anak-anak yang saya sayangi, sekarang saya bisa mengerti tindakan ibu saya. Saya melihat bagaimana dia tidak "menyerahkan Natalnya" seperti yang saya duga, tapi menemukan sukacita yang lebih besar lagi dalam Natalnya karena pemberian yang tulus lebih baik daripada menerima. Tindakan sederhana ibuku menjadikanku terharu. Selamat Natal ibuku ….

-Jennifer Yardley Barney