Jesus Gift of the Vulnerable and Voiceless part 3

Sebuah permenungan bagi saya dan KKIS sebagai Komunitas Migran di Singapura yang sudah berusia lebih dari 30 tahun ini untuk dapat merealisasikan “duc in altum” bertolak ke tempat yang dalam untuk melayani kaum migran secara utuh. Kaum migran merupakan wajah Allah sendiri yang juga hadir ke dunia sebagai orang asing, lahir di kandang domba, hidup mewartakan kabar gembira yang ditolak oleh bangsaNya sendiri bahkan mati dengan hina di salib yang keji.

Saat Anda membaca tulisan ini, mari luangkan waktu barang 1 menit untuk mendoakan kaum migran yang meninggalkan kampung halamannya dari negara asalnya ke negara lain demi mencari penghidupan yang lebih layak, tak jarang para migran harus meninggalkan keluarga yang dicintainya, suami atau istri atau anak menempuh jarak yang jauh melewati jalan darat, jalur laut, bahkan udara.

Mari kita mengingat bahwa perjalanan sebagai migran di tempat asing kadang harus ditebus bukan hanya dengan air mata penderitaan, uang dan waktu, tapi terkadang dengan nyawa, terlebih kaum migran yang harus meninggalkan negara asalnya karena perang, mereka ditolak masuk ke negara asing, banyak yang meninggal di lautan luas, ditipu oleh para agen yang hanya mementingkan dan tamak akan uang. Kita doakan juga para migran sebagai korban perdagangan manusia, prostitusi, terutama anak-anak yang diculik dari satu negara ke negara lain dengan alasan tamak akan uang, mereka diambil haknya secara paksa. Tak lupa juga kita doakan pasangan asing yang harus hidup terlunta-lunta di negara asing akibat perceraian, setelah memiliki anak malah ditinggalkan oleh pasangan lokalnya, tidak bisa kembali ke negara asalnya, terjepit kondisinya di negara yang sama sekali baru dan berbeda secara budaya, keterbatasan bahasa dan komunikasi.

Masih segar dalam ingatan kita saat Bapa Suci Fransiskus mengajak umat Katolik merayakan Tahun Yubileum Kerahiman Ilahi, hari refleksi dan doa tahunan Gereja Katolik tentang kondisi para migran dan pengungsi yang menjadi kesempatan bagi umat Katolik untuk refleksi dan doa khusus serta “menyambut orang asing” dengan sikap belarasa. Bapa Suci ingin menarik perhatian umat Katolik untuk merenungkan “situasi dramatis karena banyak saudara-saudari kita dipaksa meninggalkan tanah air mereka”. “Marilah kita membuka mata kita dan melihat penderitaan dunia, luka-luka saudara-saudara kita yang ditolak martabat mereka, dan mari kita mengakui bahwa kita mengindahkan seruan mereka untuk membantu,” tulis Bapa Suci dalam dokumen itu.

Referensi pada tema tersebut, dewan itu mengatakan, tujuan “secara eksplisit untuk merenungkan fenomena migrasi menjadi respon dunia dan terutama, dari Gereja. Dalam konteks ini, Bapa Suci mengajak orang-orang Kristiani merefleksikan tentang karya-karya jasmani dan rohani dengan sikap belarasa, termasuk menyambut orang asing.” “Kristus sendiri hadir di tengah ‘orang kecil’.

Pengalaman 4 hari menyepi bersama para peserta lainnya di Seminari St Francis Xavier sungguh merupakan pengalaman iman yang sangat mengharukan dan menyentuh, terutama saat Misa Penutup sebelum Uskup Bernard Paul memberikan berkat penutup bersama Father Alvin Ng, SJ dan Father Graziano.

Tak terasa banyak peserta yang menitikkan air mata haru teramsuk saya saat semua peserta maju kealtar dan didoakan lewat perentangan tangan oleh Bapa Uskup dan 2 konselebran, di situ sungguh terasa kuasa Roh Kudus mengalir secara lembut bagi semua peserta yang hadir, apalagi ditambah dengan lagu penutup misa yang menggema sepanjang acara ritual ini.

Laporan dari STW