Jesus Gift of the Vulnerable and Voiceless part 2

Konferensi 4 Hari Faith Formation Exodus V berkaitan dengan Migran yang berlokasi di St Francis Xavier Seminary, Punggol dari tanggal 31 Agustus – 3 September 2017 dilanjutkan dengan pengajaran dan sharing dari Father Valerian Cheong, Sister Anita, Sister Angela Lau, Mr Chng Yi Ken, Senior Assistant Director (Foreign Manpower Unit), Mr Bernard Menon, Executive Director, Migrant Workers Centre (MWC), Assoc. Prof. Anju Mary Paul, Division of Social Sciences (Sociology), Yale-NUS College, dll yang dengan penuh karisma memberikan waktu dan tenaga serta pikiran berbagi ilmu dan pengalaman yang sangat memperkaya iman semua peserta dan panitia yang terlibat di dalamnya.

Dalam konferensi ini, selain para peserta belajar dari sharing pengalaman banyak pakar, juga kami mendengarkan pengalaman Prabhu Silvam, seorang Jurnalis yang memotret kehidupan para manusia perahu di Cisarua https://www.refugeesofcisarua.com/ dan Christopher James, Founder dari sekolah pengungsi di Malaysia http://www.zrccmalaysia.com/

Di samping itu, penulis juga berkesempatan mengunjungi AGAPE VILLAGE http://agape-village.caritas-singapore.org/ sebagai bagian dari bidang sosial Keuskupan Singapura yang salah satu fokusnya adalah melayani setiap manusia secara utuh terutama terhadap kaum migran, tanpa memandang agama ras golongan seperti apa yang dicita-citakan oleh Uskup Agung William Goh ketika beliau eresmikan penggunaan gedung Agape Village itu.

Kaum migran pada dasarnya melakukan perpindahan ke negara lain dikarenakan berbagai faktor, mulai dari melanjutkan studi, mencari penghidupan yang lebih layak, pindah kerja ke negara berbeda, menjadi buruh atau penata laksana rumah tangga di tanah asing, perkawinan campur beda negara, bencana alam, perang, dll. Ada yang pindah ke negara lain secara sendiri-sendiri, ada yang berkelompok, ada yang tanpa paksaan alias keinginan sendiri, tapi banyak pula yang pindah karena paksaan dan ketidakdilan di negara asal. Banyak juga kaum migran yang pindah dengan data dan dokumentasi lengkap, tapi tak jarang banyak juga yang invisible / tak terdokumentasi. Kita para migran di Singapura sangat beruntung karena jarang sekali ada kasus migran tidak terdokumentasi dengan baik, tapi di negara-negara lain seperti di perbatasan Malaysia timur dan barat banyak sekali yang illegal.Image may contain: 6 people, people smiling, people sitting and indoor

Untuk konteks Singapura, boleh dibilang sepertiga dari jumlah penduduk adalah kaum migran, saat kita duduk di MRT atau Public Bus atau melewati jalan-jalan di Negeri Singa ini pasti kita akan bertemu kaum migran, cobalah tengok ke Little India, Lucky Plaza, dll maka dari itu suka atau tidak suka kita hidup di kalangan kaum migran. Tanpa kaum migran, tidak mungkin ada pembangunan besar-besaran di setiap konstruksi dan bangunan, tidak mungkin para majikan dapat bekerja dengan tenang tanpa anak-anaknya atau orang tuanya diasuh oleh para penata laksana rumah tangga, tidak mungkin perusahaan dapat berjalan dengan lancar tanpa adanya E-Pass Holders, Work Permits, dll, tidak mungkin para dokter dapat bekerja dengan tenang tanpa tenaga perawat yang umumnya kaum migran, tidak mungkin kebun-kebun dan taman-taman indah di perkotaan Singapura dapat terawat bila tanpa kaum migran. Rumah sakit, sekolah, bahkan tempat-tempat ibadah selalu dipenuhi oleh kaum migran, itulah sebabnya tantangan utama pelayanan komunitas masa depan adalah pelayanan yang menyeluruh terhadap kaum migran.Image may contain: 4 people, people smiling, people standing and indoor

Tidak bisa dipungkiri bahwa saat ini pelayanan yang popular di gereja adalah pelayanan liturgi, spiritual, doa, devosi, dll tapi juga sebagai komunitas kristiani, kita diminta untuk mengikuti Sabda Yesus, “Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan”.

berlanjut ke Dombaku minggu terakhir Oktober (edisi 22 Oktober)