Bersama?

Dalam keseharian sering kita mendengar pepatah bersama kita bisa. Atau yang lain, kalau bisa bersama, mengapa harus sendiri? Namun tidak jarang orang justru memilih sendiri karena berbagai alasan, misalnya: sendiri itu nyaman, mudah, tidak harus berurusan dengan orang lain dan perasaan orang lain, sendiri lebih simpel dan cepat, karena tidak perlu menunggu keputusan orang lain.

Saudari-saudaraku, sadarkah kita bahwa semenjak kita dalam kandungan, kita membutuhkan orang lain? Kita lahir, ditolong orang lain, makan, minum, belajar berjalan butuh orang lain & yang terakhir saat kematian menjemput,, kita butuh orang lain untuk mengatur, mendandani, mendoakan, memakamkan/melarung abu. Namun hal tersebut diatas masih masalah fisik. Hari ini disodorkan contoh kebersamaan yang lebih mendalam dan bukan hanya permukaan saja: sesuatu yang kita lakukan setiap hari. Ketika kita memulai berdoa dan mengakhirinya, kita mengucapkannya setiap minggu ataupun saat hari raya, semua bentuk sakramen yang kita rayakan & terima, selalu mengungkapkan keberadaan & kebersamaan mereka. Untuk memahami kebersamaan yang model ini, kita harus menggunakan hati kita, karena tanpa penalaran/pemahaman hati kita akan sulit memaknainya, itulah yang dikenal dengan misteri.

Hari Raya Tritunggal Mahakudus yang kita rayakan hari ini mengundang kita untuk mencontoh model kebersamaan yang sejati dan mendalam. Kebersamaan selalu membutuhkan hadirnya orang lain & pihak lain, meskipun keberadaan mereka adalah satu. Mari meneladan Allah kita baik dalam diri sendiri dengan menghargai diri dan orang lain & juga dalam keluarga meskipun banyak anggotanya tetaplah satu bahkan juga dalam Gereja, persaudaraan yang nyata. Semoga.