Santo Laurensius, Seorang Martir Yang Jenaka

Jika kita mencari kata sifat untuk mendeskripsikan seorang martir, mungkin kata-kata yang muncul di benak kita adalah suci dan gagah berani memberikan nyawanya bagi Allah. Kata “jenaka” bukanlah kata yang pertama kali terpikirkan. Memang kata “jenaka” jarang dikaitkan dengan martir, namun Santo Laurensius adalah martir yang spesial. Ia adalah martir yang jenaka. Buktinya, Ia tersenyum dengan gembira dan mukanya berseri-seri saat dianiaya dan diadili di hadapan wali kota Roma saat itu dan di depan warga Roma di Koloseum. Mari kita lihat, dua kisah singkat dari Santo Laurensius yang menunjukkan kejenakaannya.

Pertama, saat diadili, wali kota Roma, ia bernegosiasi dengan Santo Laurensius demikian: Jika Laurensius, sebagai pengurus harta benda Gereja saat itu, memberikan semua harta benda Gereja kepada Kaisar Roma, ia tidak akan dihukum mati. Santo Laurensius pun setuju dan tiga hari kemudian, ia kembali menghadap wali kota Roma di Koloseum disertai dengan kaum miskin Gereja yang ia kumpulkan dan berkata, “Ambillah dan peliharalah orang-orang miskin dan sengsara ini. Mereka inilah yang menjadi kekayaan Gereja. Ambillah, persembahkanlah kepada Kaisar.”

Kedua, setelah kejenakaannya yang pertama, Santo Laurensius diikat ke penggorengan dan dicambuk. Karena wajahnya yang tetap berseri-seri setelah pencambukkan, wali kota Roma memutuskan untuk membakar Santo Laurensius hidup-hidup. Setelah api berkobar di bawah penggorengan beberapa saat, Santo Laurensius dengan wajah gembira berseru, “Hai, Tuan Wali kota yang mulia! Suruhlah serdadu-serdadumu ini membalikkan tubuhku ini, sebab yang sebelah bawah telah masak. Suruhlah balikkan agar yang sebelah lain masak juga!”

Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa Santo Laurensius adalah martir yang jenaka bahkan dalam kesengsaraannya. Seakan-akan ia tetap bersukacita di tengah penderitaannya. Apakah rahasia kejenakaan dan sukacita yang mendalam yang dipunyai Santo Laurensius ini? Mungkin ini berasal dari relasinya dengan Tuhan yang sangat mendalam dan akrab, hingga ia sungguh-sungguh tahu siapakah dirinya dihadapan Tuhan, sungguh-sungguh menyadari bahwa dirinya adalah anak Allah dan saudara Tuhan. Sejak kecial sebelum dibaptis, Santo Laurensius dengan giat sering pergi ke Gereja dan mendengarkan dengan tekun khotbah dan pengajaran Katolik, sehingga ia pun layak dipermandikan.

Inilah yang membuat Santo Laurensius amat jenaka, karena kebanyakan orang tidak tahu siapakah dirinya dihadapan Tuhan dan siapakah sesama manusia di hadapan Tuhan. Santo Laurensius tahu bahwa tubuhnya di dunia hanyalah sementara, dan setelah wafat, jiwanya akan disatukan dengan tubuh baru yang telah bangkit di surga mulia, sedangkan sang wali kota hanya tahu bahwa hidup ini berkahir setelah kematian.

Ketika dibakar, aroma sedap menyebar dari tubuh Santo Laurensius dan semua yang menyaksikan eksekusi itu kagum dan heran, dan banyak yang memberikan dibaptis setelah peristiwa itu. Memang sukacita yang mendalam itu cenderung menular. Apakah yang kita bisa lakukan untuk menjalin relasi yang erat dengan Tuhan, sehingga kita bisa sungguh-sungguh menyadari siapakah kita dihadapan Allah, dan menyebarkan sukacita ke saudara-saudari kita hari ini?

Artikel sumbangan: Sdr. Christopher Kristo