ME KKIS Berpartisipasi Dalam World Marriage Day

Pada hari Minggu, 10 Februari 2019, Marriage Encounter (ME) KKIS berpartisipasi dalam kegiatan Freeze Flash Mob di luar ION Orchard, yang dilakukan dalam rangka memperingati Hari Perkawinan Sedunia. Bagaimana sih sejarah dan makna Hari Perkawinan Sedunia?

Ide Hari Perkawinan Sedunia (World Marriage Day) berawal di kota Baton Rouge, ibukota dari negara bagian Lousiana, Amerika Serikat, pada tahun 1981. Pada waktu itu, beberapa pasangan suami istri ME menghadap walikota, gubernur, serta Uskup kota Baton Rouge. Mereka meminta agar Valentine Day dirayakan sebagai hari “Kami Percaya Terhadap Perkawinan” (We Believe in Marriage Day).

Pada tahun 1983, judul “Kami Percaya Terhadap Perkawinan” diubah menjadi “Hari Perkawinan Sedunia” (World Marriage Day). Pada tahun 1993, sepuluh tahun sesudah pergantian nama, Paus Yohanes Paulus II memberikan restu apostolik terhadap “World Marriage Day”. Sejak saat itu perayaan World Marriage Day sudah menjadi perayaan-perayaan dalam Gereja Katolik hampir di seantero dunia.

Motto Hari Perkawinan Sedunia yang digunakan secara tetap adalah “Cintailah satu sama lain” (Yoh 15:12). Motto ini sederhana tetapi menantang pasutri, yaitu menunjukkan apa yang dikehendaki Allah Bapa di surga tentang bagaimana kita seharusnya menghayati hidup ini.

Simbol Hari Perkawinan Sedunia adalah dua lilin yang melambang suami-istri. Ini mengingatkan setiap pasutri bahwa hidup perkawinan merupakan panggilan untuk menerangi dunia. Kedua lilin itu disatukan oleh sebuah hati. Artinya, cinta kasih merupakan kekuatan yang menggalakkan kesatuan di antara pasutri dan melahirkan kemampuan untuk menjadi pemberi hidup dan inspirasi kepada orang lain untuk berbuah dan bersatu.

Penasaran mengenai kegiatan ME yang ada di KKIS? Ingin bergabung dengan kami? Hubungi pasutri Rudy & Grace (9380 7513), pasutri Chris & Inge (9005 9847), pasutri Erik & Monique (9001 1090).