Hari Raya Kabar Sukacita

Sahabat-sahabat Dombaku yang setia … pernahkah Anda menyadari bahwa Hari Raya Kabar Sukacita atau yang disebut sebagai Solemnity of the Annunciation of the Lord yang akan kita peringati esok dirayakan tepat sembilan bulan sebelum kelahiran Kristus di hari Natal? Mari, kita baca dan simak bersama arti yang lebih dalam dari Hari Raya Kabar Sukacita ini…

Hari Senin besok tepatnya pada tanggal 25 Maret, Gereja merayakan Hari Raya Kabar Sukacita. Perayaan ini mengenang peristiwa Maria yang menerima kabar gembira dari Tuhan melalui Malaikat Gabriel. Isi kabar gembira itu adalah Maria akan mengandung dan melahirkan Yesus, Sang Juruselamat. Yesus akan menjadi kepenuhan janji Allah atas umat-Nya. Melalui dan dalam Dia, manusia akan diselamatkan. Dalam peristiwa yang penuh sukacita dan amat bersejarah ini, Maria menjadi tokoh iman yang sangat penting dalam sepanjang sejarah keselamatan yang dikerjakan oleh Allah. Karena itulah pada peringatan ini, busana liturgi yang digunakan adalah putih dan bukanlah ungu walaupun hari ini hampir selalu jatuh dalam masa Prapaskah.

Maria menerima rahmat dan sekaligus panggilan menjadi Ibu Penyelamat, Bunda Allah. Rahmat dan panggilan iman ini sesuatu yang menggembirakan bagi Maria. Ini menandakan betapa dia adalah wanita yang pantas di hadapan Allah. Dalam menerima kegembiraan ini, Maria tidak lepas dari situasi ketakutan dan kekuatiran. Dia diliputi oleh banyak pertanyaan. Tetapi, dia adalah sungguh orang yang beriman. Dia berani terbuka terhadap rencana Allah. Dia berani menerima dan menjalani apa yang belum pasti dan jelas bagi dia sebagai manusia. Dia berani pasrah. Dia berani berharap! Keberanian ini lahir dari sebuah keyakinan bahwa dia adalah hamba Tuhan. Sebagai hamba-Nya, Tuhan akan menyertai dan melindunginya. Keberanian Maria terwujud dalam kesetiaannya mendampingi Yesus hingga di kaki salib.

Seluruh perjalanan hidup Maria dalam menanggapi karya keselamatan Allah adalah sebuah model iman yang seharusnya kita teladani sebagai orang beriman. Sebagaimana Maria, kita hendaknya berani menanggapi kehendak Allah yang tidak selalu jelas dan pasti bagi kita. Kita hendaknya berani berharap dan beriman kepada Allah. Kalau melihat kembali sejarah iman kita, kita akan tahu bahwa betapa kita jauh dari keteladanan iman Maria. Kita menutup hati terhadap rencana Tuhan dan memaksa Tuhan melaksanakan kehendak kita. Kita “menjual iman” kita di saat kita menghadapi kesulitan hidup. Kita lari dari salib-salib yang harus kita lalui sebagai orang beriman. Kita mengakhiri kesetiaan kita terhadap Tuhan hanya karena kita tidak kuat berdiri dan berjalan di jalan yang penuh kerikil kehidupan. Mari kita menjadikan Maria sebagai model iman kita! Kita berkata seperti dia: ‘Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu itu”.

Disadur dari kontribusi sdri. Benedicta Miranti & Kelompok Doa Katolik