Ujud Khusus Bapa Suci- Perdagangan Manusia

Pada bulan Februari ini, kita diajak Bapa Suci Paus Fransiskus berdoa untuk menyambut korban perdagangan manusia, pelacuran, dan kekerasan. Isu-isu ini sering kali menimpa para migran yang miskin dan secara terpaksa meninggalkan tempat kelahirannya untuk menggapai cita-cita akan hidup yang lebih baik. Isu ini tentunya sungguh dekat dengan hati Bapa Paus, yang dirinya sendiri adalah seorang migran dari Italia ke Argentina ketika beliau masih kecil. Ia sendiri barangkali pernah berinteraksi dengan para migran di Argentina secara langsung dan melayani mereka menurut kemampuannya. Bahkan keluarga beliau pun barangkali menerima bantuan dan pelayanan dari orang-orang asli Argentina yang baik hati sehingga keluarga beliau bisa berasimilasi dengan baik disana.

Kita orang Katolik Indonesia di Singapura juga tergolong sebagai kaum migran. Dalam pengalaman hidup kita di Singapura, tentu kita pernah mengalami kasih persaudaraan dan pelayanan dari orang Singapura. Kita “telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma,” pesan Yesus (Mat 5:8). Namun, hal ini tidak mudah untuk dilakukan, terutama kepada orang-orang asing yang telah menyakiti kita. Kesombongan hati, egoisme yang mementingkan diri sendiri, dan rasa pilih kasih juga dapat menghambat kita untuk melayani saudara-saudari kita yang berasal dari suka, ras, agama, dan kewarganegaraan yang berbeda. “Apakah aku penjaga adikku?” (Kej 4:9) sahut Kain kepada Allah setelah membunuh adiknya. Apakah kita berani keluar dari zona nyaman kita untuk menyambut Tuhan sendiri yang berdiam di hati semua orang, terutama mereka yang sungguh berbeda dengan kita?

Menjelang menyambut masa suci Prapaskah, marilah kita semakin menyadari keberadaan Tuhan di saudara-saudari kita, hati kita tergerak untuk melayani kaum migran di Singapura dengan murah hati sesuai dengan kemampuan kita masing-masing. Semoga kelak nanti, kita disambut Tuhan “Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.” (Mat 25:34-36)

Artikel oleh Sdr. Christofer Kristo