Apakah Sebenarnya Api Penyucian?

Sebagai umat Katolik yang beriman, kita percaya bahwa kita akan melewati api penyucian setelah kita mati. Namun, apakah sebenarnya api penyucian itu? Apakah kita sudah benar-benar mengerti makna dari ‘api penyucian’ itu sendiri? Apakah kita sudah mempersiapkan diri kita untuk masa ‘api penyucian’ pada akhir hidup kita nanti?

Gereja Katolik mengajarkan bahwa kita diselamatkan karena kasih karunia Allah oleh iman (lih. Ef 2:8, Tit 2:11; 3:7). Dan iman ini harus dinyatakan dan disertai dengan perbuatan, sebab jika tidak demikian, maka iman kita itu mati (lih. Yak 2:17, 24, 26). Perbuatan kasih yang didasari iman inilah yang menjadi ukuran pada hari Penghakiman, apakah kasih kita sudah sempurna sehingga kita dapat masuk surga atau sebaliknya, ke neraka. Ataukah karena kasih kita belum sempurna, maka kita perlu disempurnakan dahulu di dalam suatu tempat/ kondisi yang ketiga, yaitu yang kita kenal sebagai Api Penyucian.

Api penyucian tidaklah kekal. Lamanya tergantung dari hukuman yang dijatuhkan pada setiap penghakiman khusus. Bisa saja waktunya berabad-abad tergantung kasusnya, pada akhir dunia, dimana waktu juga akan berakhir, api penyucian akan ditutup selama-lamanya. Allah tahu bagaimana merekonsiliasikan keadilanNya dan kebaikanNya didalam pemurnian anggota terakhir umat manusia. Pada penghakiman umum, setiap vonis hukuman, apakah itu surga atau neraka, akan mutlak, dan akan dilaksanakan secepatnya dan selengkapnya.

Sedangkan pada saat kita masih hidup, perbuatan kasih ini dapat dinyatakan dalam bentuk tindakan langsung, kata-kata atau dengan doa. Doa syafaat yang dipanjatkan dapat dinyatakan dengan mendoakan sesama yang masih hidup di dunia, maupun mendoakan mereka yang telah meninggal dunia. Oleh karena itu, maka Gereja Katolik mengajarkan akan adanya Api Penyucian, dan bahwa kita boleh, atau bahkan harus mendoakan jiwa-jiwa yang masih berada di dalamnya, agar mereka dapat segera masuk dalam kebahagiaan surgawi.

Terkadang kita mungkin lupa untuk mendoakan orang tua, saudara ataupun kerabat kita yang sudah meninggal. Bahkan kita mungkin berpikir bahwa mereka sudah tenang dan bahagia sekarang. Namun penting untuk diingat bahwa saudara kita juga mungkin saja masih berada di api penyucian dan masih berjuang disana. Satu-satunya hal yang bisa kita lakukan adalah mendoakannya dan memang hanya doa lah yang sangat mereka butuhkan saat ini.

Marilah kita berdoa bagi mereka, tidak hanya hari ini, tetapi dengan lebih sering. Kita tidak dapat melakukan hal yang lain bagi mereka. Ini mungkin tampak remeh, tetapi kenyataannya tidak. Terutama ketika kita mempersembahkan bagi mereka doa terbaik yang kita miliki: Misa Kudus, Kurban Kristus yang dipersembahkan untuk istirahat abadi mereka. Jiwa-jiwa di Api Penyucian, karena ketidakberdayaan mereka, sangat berterima kasih, dan akan membalas kita seratus kali lipat. Mari kita mohon perantaraan mereka, dengan berdoa untuk istirahat abadi mereka. Amin!

Artikel persembahan dari Sdri. Benedicta Miranti