Hati Nurani: Suara Yang Harus Didengarkan & Dipertajam

Image result for sacred heart stained glass“Dengarkan apa kata hati (nurani)mu.” begitulah saran atau nasehat yang mungkin sering kita dengar saat kita sedang mempertimbangkan sesuatu. Apakah teman-teman sering mengikuti saran ini? Sebenarnya saran ini cukup bagus. Di dalam hati nurani tertanam hukum yang memanggil kita untuk memilih yang baik dan menjauhi yang jahat (Katekismus Gereja Katolik/KGK 1776). Hati nurani memampukan kita untuk menilai suatu tindakan atau keputusan yang akan kita ambil. Maka dari itu, sangatlah penting bila kita mendengarkan suara hati nurani kita. Setelah kita mengambil keputusan atau bertindak, hati nurani kita akan menilai apakah kita telah memilih yang baik atau sebaliknya.

 

Image result for kitab suci stained glass

Mengikuti saran untuk mendengarkan hati nurani memang cukup bagus namun tidak sepenuhnya benar. Mendengarkan hati nurani saja tidaklah cukup. Hati nurani harus kita beri formasi dan pendidikan yang bagus (KGK 1783). Kita sebagai manusia berdosa memiliki kecenderungan untuk berdosa dan memilih jalan yang kita kehendaki. Kita perlu menerangi hati nurani kita dengan Sabda-Nya. Sabda Tuhan adalah cahaya bagi kita seperti kata pemazmur “Firman-Mu itu adalah pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku” (Mazmur 119:105). Jikalau kita memiliki hati nurani yang terasah, maka keputusan yang kita ambil akan selaras dengan kehendak Tuhan.

Bagaimana kita harus mendidik hati nurani kita? Pertama, kita harus mengingat bahwa pendidikan hati nurani adalah tugas seumur hidup kita sehingga kita memerlukan konsistensi dalam menjalankannya. Kedua, kita dapat mempertajam hati nurani kita dengan rajin membaca Sabda Tuhan. Sabda Tuhan memampukan kita untuk memahami dan mencontoh hidup Yesus. St Jerome, salah satu Bapa Gereja, mengatakan bahwa mengabaikan Sabda Tuhan berarti mengabaikan Kristus. Ketiga, kita perlu memeriksa hati kita setiap hari. Hal ini dapat dilakukan di depan salib Kristus atau Sakramen Maha Kudus. Memeriksa hati nurani berarti memeriksa apakah hari ini kita sudah menjalankan perintah Tuhan (10 perintah Allah), apa yang bisa kita lakukan lebih baik dan kita hindari dan bagaimana kita bisa mengasihi Tuhan dan sesama dengan lebih baik. Marilah kita memohon pada Roh Kudus untuk selalu membimbing kita dan memohon doa dari Bunda kita. Amin.

Ditulis oleh: Arliando Setiadi