Rindukah Kita Dengan Ekaristi?

Karena Ekaristi adalah Yesus Kristus sendiri, Ekaristi menjadi ‘jantung’ dari iman Katolik. Katekismus Gerja Katolik mengajarkan bahwa Ekaristi adalah “sumber dan puncak seluruh kehidupan Kristiani” (KGK 1324) dan “hakikat dan rangkuman iman kita” (KGK 1327). 

Dalam perayaan ekaristi yang kita ikuti setiap minggunya, yang menjadi bagian terpenting adalah sakramen ekaristi itu sendiri. Dimana kita menghayati kehadiran Yesus di tengah-tengah kita dan nantinya akan tinggal di dalam kita. Maka dari itu, kita diharapkan untuk menyiapkan diri kita seutuhnya baik jiwa dan raga karena disitulah Tuhan akan hadir.

Sebagai umat Katolik yang hidup dan tinggal di kota maju seperti kita, perayaan ekaristi dan tubuh Kristus dapat kita terima dengan mudah setiap minggunya atau bahkan setiap harinya. Aksesnya sungguh mudah untuk kita. Namun, apakah dengan hal itu kita mampu menghayati makna ekaristi sesungguhnya? Apakah kita pernah merasa rindu dan haus akan ekaristi? Apakah sakramen ekaristi menjadi suatu hal yang biasa-biasa saja karena kita bisa mendapatkannya dengan mudah?

Mudahnya akses yang kita punya untuk menerima sakramen ekaristi saat ini belum tentu bisa dirasakan oleh saudara kita yang tinggal di pedalaman, dimana mengadakan misa setiap minggunya pun mungkin sulit untuk mereka. Berbeda dengan kita yang memiliki banyak pilihan dalam menerima sakramen ekaristi. Mungkin kita memilih untuk mengikuti ekaristi di gereja A hanya karena interiornya yang bagus, waktunya yang sesuai dengan jadwal kita atau bahkan karena jarak yang dekat dengan rumah kita. Apapun alasannya, kita masih bisa menerima ekaristi yang sama. Namun mereka? Akses yang sulit atau bahkan sarana yang kurang memadahi untuk beribadah. Namun hal itulah yang justru membuat mereka merindukan ekaristi, kehadiran Yesus Kristus sendiri. Mirisnya kerinduan itu justru jarang hadir di hati kita karena aksesnya yang mudah.

Kadang kita hanya datang ke gereja, mengikuti perayaan ekaristi dan menerima tubuh Kristus dan pulang tanpa benar-benar paham apa yang sudah kita dapat dari perayaan ekaristi tersebut. Maka dari itu, kita diharapkan untuk dapat lebih menghargai, lebih merasa membutuhkan dan lebih merasa rindu terhadap tubuh Kristus yang merupakan kehadiran Yesus sendiri.

Lalu apa hubungan persembahan Yesus yang sempurna dengan Ekaristi? Mari kita lihat nubuat Nabi Maleakhi (Mal 1:11). Nabi Maleakhi bernubuat bahwa persembahan yang murni dan sempurna akan dilakukan mulai dari matahari terbit sampai pada terbenamnya. Di sini Sang Nabi merujuk pada persembahan kaum non-Yahudi. Persembahan Yesus menyempurnakan persembahan anak-anak Israel sekaligus mengikutsertakan bangsa non-Yahudi dalam persembahan tersebut.

Saat Misa dirayakan, persembahan Yesus 2000 tahun lalu hadir di tengah-tengah kita. Saat Ekaristi dirayakan, mata kita memang “hanya” melihat Romo mempersembahkan roti dan anggur di atas altar. Namun mata iman kita melihat Yesus Sang Imam Agung mempersembahkan Diri-Nya dalam rupa roti dan anggur di atas Altar-Nya yang mana adalah Ia sendiri.

Maka dari itu saudara-saudari, Ekaristi terjadi bukan karena kita menghendakinya atau karena kehebatan kita melainkan karena Allah yang menghendakinya bagi Diri-Nya dan umat-Nya. Marilah kita menghayati Ekaristi dengan lebih sungguh.

Ditulis oleh: Benedicta Miranti