Persiapan Hati Menuju Ekaristi

Perayaan ekaristi terlebih sakramennya merupakan hal yang teramat sakral bagi kehidupan kita sebagai orang Katolik. Hal itu dikarenakan ekaristi merupakan puncak kehormatan kita sebagai manusia kepada Tuhan Yesus. Maka penting bagi kita untuk menyiapkan diri, baik jiwa dan raga, sebab Allah akan hadir dalam diri kita masing-masing.

Pertama, sudahkah kita pantas menampilkan diri di rumah Tuhan? Pakaian yang kita kenakan seringkali jadi pertimbangan ketika kita hendak pergi ke sebuah pesta megah, masing-masing dari kita berusaha menampilkan sisi terbaik dari dalam diri kita. Namun, apakah kita melakukan hal yang sama ketika hendak pergi ke gereja? Atau kita hanya asal-asalan berpakaian?

Selain itu, kita perlu waktu untuk menyiapkan hati sebelum mengikuti perayaan ekaristi. Baik bagi kita untuk duduk dalam diam, berdoa dan berbicara kepada Tuhan bahwa kita benar-benar siap untuk menerima kehadiran-Nya di hati kita. Apakah kita sudah melakukan hal itu? Atau kita justru terbiasa datang terlambat dan berfikir datang misa hanya untuk menerima komuni? Sesungguhnya ekaristi adalah utuh. Maka kita harus mengikuti perayaan ekaristi secara utuh pula, tubuh Kristus yang kita terima menjadi kehilangan arti saat kita tidak menyiapkan hati secara utuh.

Kehadiran Kristus dalam perayaan ekaristi sangatlah berharga. Ia mau hadir di tengah-tengah kita saat kita memuliakan nama-Nya. Maka kita juga selayaknya hadir sepenuhnya dalam perayaan ekaristi, bukan hanyak fisik melainkan hati kita. Kita mungkin saja duduk di bangku gereja dari awal hingga akhir, mengikuti perayaan ekaristi sampai selesai. Namun, apakah hati dan pikiran kita juga hadir disitu? Apakah pikiran kita fokus tertuju kepada Tuhan? Atau jangan jangan kita hanya hadir sebagai syarat bahwa hari minggu kita harus ke gereja.

Firman Tuhan yang dibacakan di gereja baiknya kita dengar, pahami dan resapi. Sebenarnya, saat itulah Tuhan ingin berbicara kepada kita. Mungkin juga ada jawaban dari doa kita yang terkandung dalam bacaan pada perayaan ekaristi. Sudahkah kita melakukannya? Apakah kita benar benar mendengarkan bacaan Injil setiap minggu nya?

Kita mungkin saja secara sadar maupun tidak mengalami beberapa hal tersebut. Maka sudah seharusnya kita refleksikan hal tersebut pada diri kita masing-masing. Jika Tuhan Yesus saja mau hadir untuk kita dalam perayaan ekaristi, apakah pantas jika kita tidak menyiapkan diri sebelum bertemu dengan Yesus sendiri?

Ditulis oleh: Benedicta Miranti