Misa Perdamaian Bagi Bangsa Indonesia 24 Mei 2018

“Garam memang baik, tetapi jika garam menjadi hambar, dengan apakah kamu mengasinkannya? Hendaklah kamu selalu mempunyai garam dalam dirimu dan selalu hidup berdamai yang seorang dengan yang lain.” – Mrk 9:50

Demikianlah ayat dari Bacaan Injil pada hari Kamis Pekan Biasa VII pada hari Kamis, 24 Mei dimana komunitas Katolik Indonesia di Singapura yang terdiri dari organisasi KKIHS, Komindo dan KKIS berkumpul di Gereja St. Bernadette dan menyatukan hati untuk berdoa bersama dalam Misa Kudus bagi Perdamaian Indonesia yang dipersembahkan oleh RP Kamelus Kamus, CICM bersama RP Sambodo, SS.CC.

Dalam homilinya Romo Kamil yang mengambil kutipan dari Injil diatas mengutarakan bahwa fungsi garam selain memberi rasa dan juga mengawetkan makanan supaya tidak menjadi busuk. Karena itu tugas kita sebagai garam dunia adalah selain memberi rasa pada komunitas sekitar kita (sehingga mereka dapat selalu bersukacita dan berbahagia dalam menjalani pelayanannya) juga kita punya tugas untuk mengawetkan, dalam artian membuat lingkup sekitar kita utuh dan segar tidak dipengaruhi oleh arus-arus sesat yang membuat hidup kita bersesama menjadi “busuk” dan tidak berguna.

Selain itu banyak umat yang hadir pada Misa malam hari itu juga tersentuh mendengar sharing beliau tentang bagaimana ia berteman dengan salah seorang teroris international dari Makassar, Sulawesi Selatan yang ditangkap di NIA bandara international Manila, dituduh membawa bahan peledak. Dan kemudian dijatuhi hukuman penjara selama 17 tahun. Kunjungan Romo Kamil ke penjara dan komunikasi mereka lewat email dengan perantaraan romo chaplain di penjara itu membantu mempercepat pembebasan beliau dari penjara pada tahun 2014. Sampai saat ini mantan napi itu masih berhubungan akrab dengan Romo Kamil. Father KK – begitu panggilan akrab Romo Kamil diantara umat lokal – mengakhiri homilinya dengan mengajak kita secara konkrit reaching out dan berteman dengan orang-orang yang berlainan agama sehingga kita dapat belajar utnk terbuka dan memahami serta menghormati perbedaan-perbedaan yang ada. Dengan demikian, kita berharap agar dapat terciptalah relasi yang harmonis antara kita, dan perdamaian di lingkungan kita dan bangsa kita serta dunia.

Acara Misa ini tergagas berkat keprihatinan komunitas Katolik Indonesia di Singapura sehubungan dengan kejadian peledakan bom di berbagai daerah di Indonesia sejak 8 Mei sampai dengan 15 Mei yang baru lalu. Karena itulah, maka berbagai komunitas ini mengusulkan untuk diadakannya Misa sehingga kita bersama-sama dengan seluruh umat Katolik di tanah air dapat memanjatkan doa terutama bagi para korban dan keluarga yang ditinggalkan. Selain itu sebagai putra ptri bangsa kita mendoakan perdamaian di tanah air kita.

Acara misa diawali dengan Doa Koronka yang dipimpin oleh perwakilan dari Komindo, dilanjutkan misa dan setelah itu acara diakhiri dengan Ramah Tamah di kantin dimana banyak teman-teman yang telah membawakan beberapa makanan yang telah disiapkan dengan sukarela. Di sela sela acara makan Bersama Romo Sambodo juga mengajak umat di kantin untuk menyanyikan lagu ulang tahun bagi salah seorang anggota paduan suara yang baru saja berulang tahun. Dari pengamatan penulis, nampaknya semua umat yang hadir bersukacita dan bersyukur atas kesempatan yang langka ini untuk bertemu muka dan bertegur sapa dengan teman-teman dari kelompok-kelompok lain. Beberapa umat bahkan berujar bahwa acara-acara seperti ini layak untuk diadakan lebih sering sehingga dapat mengenal lebih banyak umat Indonesia di Singapura. Mudah-mudahan angan-angan ini dapat terlaksana di waktu yang akan datang.