Maria Bunda Gereja Harapan Orang Kristiani

Saudara saudari yang terkasih, kita tentunya sudah tidak asing lagi dengan berita-berita buruk yang diberitakan oleh berbagai media seperti pengeboman beberapa gereja di Surabaya, penembakan di sebuah sekolah di Texas (Amerika Serikat), dan seterusnya. Kita sebagai orang Kristiani yang hidup bermasyarakat dihadapkan pada kenyataan hidup yang mengkhawatirkan, penuh tantangan, godaan dan persekusi. Secara manusiawi kita pasti akan merasa takut dan khawatir. Tapi ada satu hal yang perlu kita ingat yaitu kita tidak sendiri dalam perziarahan hidup kita. Tuhan Yesus menjelang wafat-Nya menitipkan murid yang dikasihi-Nya pada Bunda-Nya. Bukankah kita adalah murid yang dikasihi-Nya?

Gereja perdana bersama Bunda Maria berhasil melewati masa-masa persekusi. Lawan mereka, si naga merah, yang tampaknya perkasa tidak dapat mengalahkan Bunda Gereja berkat perlindungan Tuhan. Setelah Bunda Maria menyelesaikan tugasNya bersama dengan gereja perdana, Dia diangkat ke Surga untuk menjadi Ratu Alam Semesta. Pengangkatan Bunda Maria ke Surga ini adalah lambang kemenangan yang akan kita (gereja yang masih berziarah) dapatkan. Di tengah kesulitan dan tantangan hidup ini, hendaklah kita tidak kehilangan kepercayaan pada kemenangan yang akan kita raih. Bunda Maria di Surga dengan tekun dan sabar membantu putra dan putri-Nya berjuang. Ia menyalurkan rahmat Tuhan kepada kita setiap saat. Bunda Maria memberi senjata yang sangat ampuh pada Santo Dominikus sewaktu ia menerima penampakan dari Bunda Maria pada abad ke-15 untuk mengalahkan kekuatan si jahat yaitu Rosario. Selain itu Bunda Maria berjanji bahwa putra-putrinya yang rajin mendaraskan rosario akan bertumbuh dalam kebajikan dan menerima belas kasih Tuhan yang melimpah. Mulai saat itulah maka popularitas rosario mulai meningkat dan didirikanlah Persaudaraan Rosario di kota Keulen (Cologne) di Jerman untuk penyebaran rosario. Marilah kita bersama-sama bertekun dalam doa dan dengan penuh keyakinan menyelesaikan perziarahan kita bersama Bunda Maria.

Renungan oleh Luciano Arliando Setiadi