Mengapa Kita Menutup Arca Sewaktu Masa Sengsara

Walau Masa Sengsara yaitu masa 2 minggu terakhir dalam Masa Prapaskah barulah lewat dan hari ini diganti dengan kesukacitaan karena Kristus yang bangkit
dan menang atas dosa, namun alangkah baiknya kita menengok kembali akan tradisi Katolik yang menutup arca dan salib pada waktu Masa Sengsara itu.

Gereja Katolik mendukung tradisi ini untuk meningkatkan indera kita dan membangun dalam diri kita kerinduan akan datangnya Minggu Paskah. Ini adalah tradisi yang seharusnya tidak hanya dilakukan di paroki-paroki lokal, tetapi juga bisa menjadi kegiatan yang bermanfaat bagi “gereja domestik” untuk berlatih.

Dalam buku Missale Romanum kita menemukan instruksi, “Di Keuskupan-keuskupan di Amerika Serikat, praktek menutup salib dan gambar di seluruh gereja mulai dari Minggu Kelima [Masa Prapaskah] dapat dilakukan. Salib tetap tertutup sampai akhir Peringatan Sengsara dan Wafat Tuhan pada hari Jumat Agung, namun gambar tetap tertutup sampai di awal Malam Paskah.”

Tetapi mengapa kita harus melalukan cara yang sedemikian panjang untuk menutupi gambar-gambar yang dirancang untuk meningkatkan hati dan pikiran kita menuju surga? Pertama-tama, kita menggunakan tabir itu untuk mengingatkan kita tentang waktu khusus yang kita miliki. Ketika kita masuk ke gereja dan melihat semuanya tertutup, kita segera tahu bahwa ada sesuatu yang berbeda. Dua minggu terakhir Prapaskah ini dimaksudkan untuk menjadi waktu persiapan segera untuk Triduum Suci dan tabir ini adalah pengingat yang kuat untuk bersiap-siap.

Kedua, tabir memfokuskan perhatian kita pada kata-kata yang diucapkan dalam Misa. Ketika kita mendengarkan narasi Kisah Sengsara, indera kita akan tergugah pada kata-kata yang menyolok dari Injil sehingga membawa kita masuk kedalam adegan kisah itu.

Ketiga, Gereja menggunakan tabir untuk menciptakan rasa antisipasi yang tinggi untuk Minggu Paskah. Ini diaktualisasikan lebih lanjut ketika Anda menghadiri Misa harian dan melihat tabir itu setiap hari. Anda tidak ingin mereka berada di sana karena mereka menyembunyikan beberapa gambar yang sangat indah. Dan di situlah letak intinya: tabir tidak dimaksudkan untuk berada di sana selamanya. Gambar-gambar harus terpampang; tidak semestinya gambar-gambar itu ditutupi.

Pembukaan tabir-tabir tersebut pada Malam Paskah ingin mengingatkan bahwa kita hidup di dunia "terselubung", di pengasingan dari rumah kita yang sebenarnya. Hanya melalui kematian kita sendiri tabir tersebut akan diangkat dan kita akhirnya bisa melihat keindahan segala ciptaan Tuhan dalam hidup kita.