Kasih Kristus, Kasih Penuh Pengorbanan

Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada

kasih seseorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya (Yoh 15:13).

Ketika kita membuka lembar Pekan Suci, di hari pertama kita disuguhkan Bacaan Injil yg sungguh menyentuh lubuk sanubari kita. Bacaan ini bagi penulis menjadi tema yang sangat sesuai dengan rangkaian hari-hari suci ini sebagai pesan penebusan Tuhan kepada umat manusia.

Di bacaan Injil hari Senin dalam Pekan Suci kita diceritakan mengenai Maria Magdalena yg membeli wangi-wangian mahal semata-mata untuk digunakan membasuh kaki Yesus. Bagi seorang yang penuh perhitungan seperti Yudas Iskariot – yang menjadi bendahara murid-murid Kristus – hal seperti ini dirasa pasti sia-sia. Namun bagi Tuhan Yesus perbuatan ini sungguh berarti karena Ia melihat niat ketulusan Maria Magdalena yg sungguh.

Maria tidak melihat perbuatannya itu menjadi sesuatu yang disia-siakan karena Ia percaya kepada Yesus dan mengasihi Tuhannya sehabis-habisnya. Maria tidak menggunakan minyak wanginya setengah botol atau hanya beberapa tetes saja namun ia menghabiskan semuanya bahkan dari bacaan-bacaan lain kita dengar bahwa ia memecahkan botol minyak wangi itu dan menggunakan semua yang ada.Inilah simbol kasih yang total, kasih yang melampaui batas, kasih yang penuh pengorbanan, kasih yang tidak penuh kalkulasi, kasih yang sempurna. Tidak setengah-setengah, tidak ada lagi yang tersisa, tidak ada lagi yang tertinggal. Ini berarti kita tidak lagi mengasihi Tuhan karena kondisi kita yang bagus, atau mengasihi teman kita selama kita menginginkannya. Tidak. Kasih Tuhan mengalir bagi kita seperti mata air yang tiada hentinya.

Seminggu yang lalu kita mendengar bagaimana seorang polisi Perancis menawarkan nyawanya sendiri sebagai sandera menggantikan tempat seorang perempuan yang disekap oleh teroris ketika sedang terjadi tawar menawar antara teroris itu dengan polisi. Letnan Kolonel Arnaud Beltrame akhirnya tewas karena luka tusukan dan tembakan yang dalam. Presiden Perancis Emmanuel Macron bahkan menjulukinya sebagai pahlawan bangsa.

Teman-teman terkasih. Dari cerita diatas kita dapat melihat bahwa sebagai seorang pengikut Kristus, kita dituntut untuk mewujudkan kasih-Nya itu dalam hidup kita sehari-hari. Dapatkah kita melihat diri kita sendiri: sejauh mana kita mampu untuk mengasihi sesama kita? Sejauh mana kita mampu mengorbankan segala hal yang enak dalam hidup kita? Sejauh mana kita bisa meninggalkan zona kenyamanan kita (comfort zone) untuk menderita bagi orang lain? Ketika kita masih mampu untuk memilih, misalnya, dapatkah kita dengan sadar, memberikan barang yang lebih baik untuk teman kita dan mengambil barang yang lebih buruk untuk kita sendiri? Sering yang terjadi justru sebaliknya. Atau mampukah kita berkorban untuk ikut dalam pelayanan doa bagi orang sakit atau meninggal ketika kita sedang bersiap untuk pergi nonton film bersama teman?

Kasih Allah yang sempurna memang sulit untuk kita jalani dengan sepenuh hati. Namun apa yang kita dapat lakukan adalah dengan memohon rahmat dari Tuhan agar supaya kita sedikit demi sedikit dapat meninggalkan ke-aku-an kita dan mengikuti sifat-sifat Kristus sendiri sehingga kitapun dapat dengan perlahan tapi pasti mengikuti jalan kekudusan kita untuk akhirnya dapat bersatu dengan Tuhan di hari Paskah kita yang abadi dan menjadi mirip seperti Kristus.

Selamat Paskah teman-teman semua. Selamat memperingati pengorbanan kasih Tuhan yang membawanya kepada kemuliaan di Hari Raya Paskah ini. Semoga dengan pembaharuan janji baptis yang baru saja kita terima, kita boleh menjadi pengikut Kristus yang lebih baik lagi dari tahun-tahun yang lampau.